Peran Remaja Masjid dalam Membangun Kultur Belajar di Masyarakat.           


Seperti namanya “remaja masjid” merupakan sekelompok remaja yang melakukan aktivitas-aktivitas dalam rangka menghidupkan kegiatan keagamaan. Remaja sesuai pendapat Andi Mappiare (1982: 27) yaitu manusia yang memiliki rentangan usia antara 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai dengan 22 tahun bagi pria.  Lebih lanjut Santrock (2003:26). Menjelaskan bahwa remaja (adolescence) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional.  Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja apabila dapat tersalurkan secara optimal, maka ia akan membawa perubahan yang signifikan dalam membangun kultur di masyarakat.
Kultur yang penting dibangun yaitu kultur belajar.  Pada kuliah-kuliah kependidikan tidak jarang kita mendengar bahwa pendidikan bisa di lakukan dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun.  Pendidikan merupakan suatu usaha rekayasa sosial yang baik untuk membangun bangsa yang kuat dan dapat bersaing dengan negara lain.  Persaingan ini akan menang jika saja kita memiliki pemuda pemudi yang kuat secara moral maupun intelektual. 
Gambar 1. Kegiatan Pengajian Anak-Anak
Pendidikan dapat dilakukan secara formal maupun nonformal.  Seperti yang telah dilakukan oleh sekelompok remaja masjid Al-Fajar, Siraman II, Siraman, Wonosari, Gunungkidul. Sekelompok remaja tersebut, secara aktif dan sukarela menghidupkan kegiatan TPA .  Fokus utama diadakan TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an) yaitu membantu santri/ peserta didik agar dapat membaca al-qur’an, sehingga tidak lagi ditemukan seorang anak yang buta huruf hijaiyah.  Berangkat dari tujuan sederhana tersebut, remaja masjid menyusun rencana pembelajaran yang dilakukan dengan fokus utama pelatihan membaca jilid sampai dengan al-qur’an.  Selain itu, remaja juga menggagas beberapa kegiatan tambahan diantaranya: pelatihan adzan, hafalan, ceramah (pildacil), sholat, wudhu.  Setiap 4 sampai dengan 5 minggu sekali diadakan kegiatan lain diluar kegiatan pembelajaran.  Kegiatan tersebut berusaha mengembangkan  nilai kepemimpinan, kompetisi, kepercayaan diri, dan rasa tanggungjawab baik dari segi remaja maupun dari segi santri sebagai peserta didik.  Kegiatan yang telah dilakukan yaitu hiking, pengajian anak-anak, mengikuti lomba-lomba keagamaan. 
                Saya berharap agar kita dapat menghidupkan kegiatan TPA dilingkungan kita masing-masing.  Mungkin apa yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang besar untuk mencapai sesuatu tujuan yang besar, akan tetapi kita harus ingat bahwa kita tidak pernah berjuang sendiri.  Diluar sana banyak juga orang-orang yang sedang berjuang untuk turut mendidik putra-putri bangsa agar menjadi generasi yang unggul.  Bunda Theresa pernah mengatakan bahwa Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya.  Biarpun begitu, tetaplah lakukan kebaikan.  Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup.  Biarpun begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik.  Katahuilah pada akhirnya, Sesungguhnya ini semua adalah antara engkau dan Tuhan.  Tidak pernah antara engkau dan mereka.”
Ruly Ningsih, S. Pd.
Alumni Psikologi Pendidikan dan Bimbingan/Bimbingan dan Konseling UNY



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROSPEK KELANJUTAN STUDI LULUSAN SMK JURUSAN TATA BUSANA

PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH

GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”