GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”
Sebagai
lembaga paling strategis dalam melakukan rekayasa sosial, pendidikan memiliki
banyak tantangan dan pekerjaan rumah.
Guru-guru kita sebagai ekseskutor lapangan mmemainkan peranan yang
signifikan dalam menentukan sejauh mana keberhasilan pendidikan. Pendidikan dikatakan berhasil apabila terjadi
perubahan pola pikir, emosi, dan tindakan siswa ke arah yang lebih baik. Tentu bukan pekerjaan yang mudah bagi
guru-guru kita, akan tetapi bukan berarti pekerjaan ini tidak dapat dilakukan
apalagi bagi seorang guru BK.
Hari
ini, anak-anak kita yang masih polos menghadapi arus tantangan degenerasi moral
yang sangat hebat. Kita sebagai orang dewasa tentu khawatir dan prihatin saat
mendengar siswa SMP dan SMA/K di beberapa tempat di daerah kita hamil di luar nikah. Bahkan, menurut survey 1 dari 4 remaja di
Indonesia sudah pernah melakukan seks di luar nikah (Viva.co.id). Bukan tidak mungkin remaja di sekolah kita
menjadi salah satu korban keadaan tersebut.
Remaja yang masih berada pada tahap mencari identitas harus berlari ke
sana sini untuk menemukan model / significant
others yang cocok untuk dijadikan panutan.
Tokoh politik yang menggembar-gemborkan perubahan bahkan terlibat
korupsi. Artis idola mereka terjerumus
narkoba, seks bebas, dan perilaku menyimpang lainnya. Teman sepermainan mereka bukan lagi mengajak
basket dan bermain sepeda akan tetapi menawarkan rokok, miras, tawuran, maupun
memamerkan perilaku seks yang pernah dilakukannya. Internet bukan lagi hanya
memberikan bahan pelajaran tetapi juga menawarkan video-video yang tidak layak
dilihat oleh remaja.
Menghadapi
tantangan sosial tersebut, sudah saatnya bagi kita termasuk guru BK untuk dapat
mengakomodasi perilaku remaja melalui dukungan sistem yang kuat. Guru bimbingan dan konseling sebaiknya mampu
menginisiasi suatu program untuk memfasilitasi perkembangan yang sehat bagi
siswa. Guru bimbingan dan konseling
tidak dapat mengatasi persoalan sistemik secara mandiri. Guru BK dapat bekerjasama dengan kepolisian,
dinas kesehatan, orangtua, kelompok masyarakat, maupun LSM terkait. Pemilihan pihak yang diajak berkolaborasi
tergantung pada persoalan yang sedang digarap.
Banyak fenomena-fenomena sosial melibatkan remaja yang perlu kita dalami
dan disosialisasikan dengan lembaga terkait agar remaja dapat terhindar dari
tindakan serupa. Melaksanakan layanan
yang bersinergi dengan isu sosial dan pihak lain memang pekerjaan yang
menantang. Apabila hal ini dapat dilakukan oleh guru BK, berarti guru BK secara
langsung maupun tidak langsung telah berusaha melakukan intervensi pada lapisan
mesosistem.
Kemauan
yang kuat untuk merancang berbagai teknik intervensi merupakan kunci pokok
keberhasilan layanan preventif maupun kuratif di sekolah. Hal ini membutuhkan kepekaan dan kepedulian
sosial yang tinggi. Namun, hal ini perlu
dilakukan mengingat profesi bimbingan dan konseling merupakan helping service. Pokok pikiran yang harus kita sadari bersama
yaitu siswa-siswa kita hidup dalam lingkungan sosial yang secara langsung
maupun tidak langsung turut berkontribusi membentuk pola pikir dan pola
perilaku siswa sehingga intervensipun sebaiknya melibatkan pihak lain.
Komentar
Posting Komentar