Cerita untuk Pak Darmaningtyas…
Selamat malam untuk para
penebar inspirasi. Jitske Mulder (Ruth
Havelar, nama pena), Darmaningtyas, dan Pramoedya Ananta Toer. Sekali lagi, aku mempertemukan Bapak dan Ibu
dalam sebuah rasa penasaran mengenai jaman pemerintahan Soeharto. Anda membahas melalui tulisan dan
catatan-catatan sesuai dengan latarbelakang Anda pribadi. Terimakasih telah menjadi inspirasi untuk
memulai menulis. Kalau sekarang menulis
ya menulis saja, tidak lagi takut dianggap antek-antek PKI. Hahaha…
Malam ini membaca tulisan
Pak Darma yang sudah dirilis beberapa bulan lalu. Kemarin pernah membaca sekilas, dan baru
sekarang rasanya keinginan membuka tulisan Pak Darma mulai kembali. Soalnya, saya menemukan pengalaman soal
pendidikan yang ingin saya bagi. Orang
bilang saat ini saya tidak punya kegiatan signifikan.hahaha karena belum
bekerja. Tapi sebenarnya saya juga
produktif. Jangan salah, bekal
pengalaman belajar di perguruan tinggi membuat saya dapat membantu banyak orang
dengan pengalaman saya. Bukan sombong,
ada beberapa teman juga yang minta sharing soal mengerjakan skripsi. Mungkin bahasa dosen bimbingan skripsi, tapi
karena saya belum dosen bahasanya jadi sharing skripsi. hahaha apalah itu sebutannya yang penting
dilakukan dengan baik dengan niat membantu oranglain. Saya gak mau sombong,
karena ilmu saya juga cuma titipan Alloh SWT dan hasil bimbingan dengan Dr.
Suwarjo, M. Si.
Pak Darma, persoalan
penguasaan IT itu sebenarnya di
perguruan tinggi di Jawa juga ada lho Pak yang masih kesulitan. Bahkan hanya untuk sekedar membuat
presentasi. Buktinya mahasiswi di salah
satu universitas di Gunungkidul belajar di rumah saya untuk membuat presentasi. Selain itu, menurut penuturannya kalau mau
presentasi fasilitas di kampusnya kurang mendukung. Kadang ada alatnya kadang gak ada
alatnya. Jadi kalau presentasi Cuma
dibacakan saja. Saya herannya begini,
uang SPP nya tidak murah lho Pak kok Cuma buat membeli lcd presentasi aja gak
bisa. Saya saja kuliah sarjana cuma
bayar 705.000 bisa mendapatkan fasilitas yang memadai. Ya memang tidak bisa dibandingkan sekenanya,
karena saya kuliah di UNY. Akan tetapi
persoalannya adalah kalau universitas tidak bisa memberikan fasilitas belajar
yang baik dengan penarikan uang spp yang besar, apakah itu bukan pembodohan
publik namanya. Orang desa mah taunya
kuliah Pak, kalau suruh membayar ya bayar, dapat ilmu biar besok dapat
pekerjaan enak, cuma ketika proses menjalani pendidikan itu lho Pak. Sangat memprihatinkan. Bayaran hampir 3 juta persemester, tapi
sarana prasarana juga fasilitas yang minimalis. Tempat duduknya pun tidak senyaman saya
ketika kuliah. Menurut teman saya,
tempat duduk kuliah itu seperti kursi di tempat orang mantu itu lho Pak. Kipas angin tidak ada, apalagi AC. Mungkin hanya air cendela yang setia
menemani.
Mohon do’a ya Pak Darma,
setidanya sebagai solidaritas anggun “anak gunung” bahwa saya sekarang sudah
diterima S2 Bimbingan dan Konseling UNY.
Semoga saya dapat menyelesaikan studi tersebut dengan baik. Seperti tulisan Bapak tentang Universitas di
Borneo, saya jadi termotivasi untuk jadi pendidik di salah satu universitas di
luar jawa yang mana Bapak sebutkan memiliki banyak ketimpangan dengan kualitas
di Jawa. Heheh…
Komentar
Posting Komentar