Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Smart Consumen Knowing Rules, No Impulsive Buying, and Loving Local Product

Sejak diberlakukan MEA di akhir 2015, tantangan bagi UMKM Indonesia tentu semakin berat.  Indeks daya beli masyarakat yang masih merangkak, ditambah lagi dengan masuknya era ekonomi asean tentu persaingan usaha semakin kompetitif.  Usaha mikro, kecil, dan UMKM harus kreatif dan inovatif untuk dapat bersaing dengan produk-produk asing.  Menghadapi serangan produk  dari luar negeri tidak hanya menjadi tugas UMKM akan tetapi juga membutuhkan kontribusi konsumen sebagai pengguna produk. Kita sebagai orang Indonesia hendaknya dapat mengambil bagian untuk menghidupi  UMKM dengan cara menjadi smart consumen /konsumen cerdas yang mengutamakan produk dalam negeri.  Hal ini mengingat bahwa UMKM merupakan kontributor signifikan bagi penyerapan tenaga kerja.  Agus Muharam 2010-2011 (Latifa Dwike) UMKM merupakan 99,99 persen dari pelaku usaha nasional, dalam tata perekonomian nasional sudah tidak diragukan lagi, dengan melihat kontribusinya dalam penyerapan tena...

Sudahkah anak-anak tahu ingin menjadi apa mereka kelak?

          Sering kita mendengar bahwa sebagian anak-anak kita tidak memiliki mimpi akan kemana dan menjadi apa.   Wawancara terhadap sebagian anak menunjukkan kecenderungan bahwa anak-anak yang masuk kategori pandai sudah menentukan tempat sekolah selanjutnya bahkan kemudian bermimpi untuk memasuki universitas terkemuka. Sementara, anak-anak yang lain belum memiliki mimpi.   Gawatnya lagi, ia sempat berpikir bahwa pilihan studi selanjutnya akan memilih berdasarkan pilihan teman-temannya.   Padahal mungkin saja ia memiliki mimpi yang tidak sama dengan teman-temannya.   Hasil wawancara singkat ini mungkin hasilnya akan berbeda jika dilakukan di daerah lain sehingga penulis tidak bermaksud menggeneralisasikan hasil ini untuk lingkup yang lebih luas.   Kenyataan ini hanya akan menjadi bahan refleksi bagi orangtua, guru BK, guru SD, dan guru-guru lain pada umumnya.   Apakah kita sudah memfasilitasi anak-anak kita untuk membangun jembata...

PERTANYAAN REFLEKTIF :WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA

1.     Apakah pendidikan kita sudah mampu membuat anak-anak kita bertanya secara aktif? 2.     Apakah pendidikan kita sudah mampu membuat anak-anak menghayati dan mengamalkan disiplin? 3.     Apakah pendidikan sudah mengajarkan arti kerja keras? 4.     Apakah pendidikan kita sudah mengajarkan dalam arti mampu memberikan pemahaman mengapa pentingnya anak harus belajar? 5.     Apakah guru sudah menjadi sososk yang benar-benar dirindukan oleh siswa? 6.     Apakah guru sudah menularkan akan adanya sebuah harapan masa depan? 7.     Apakah murid-murid kita sudah memiliki cita-cita masa depan? 8.     Apakah guru sudah memberikan contoh dan ajakan bentuk-bentuk nyata berkontribusi bagi bangsa? 9.     Apakah guru-guru kita pandai mendongeng? 10. Apakah anak-anak kita sudah terbiasa membaca dan menulis? 11. Apakah anak-anak kita sudah menjad...

Mencintai

Sebuah ungkapan mengatakan bahwa org yang mencintai lebih besar akan terluka lebih dalam. Akan tetapi jika komitmen mencintai masih ada, layakkah mengkhianati... Mungkin memang mencintai akan terluka tapi saat waktunya harusnya mencintai maka mencintai dengan baik adalah pilihan, setidaknya itu jauh lebih membahagiakan dari pada penyangkalan akan cinta... setidaknya ada setitik kedamaian dalam hidup.  penyangkalan akan cinta juga menimbulkan rasa sakit.  Tetapi dengan mengambil hikmah akan pelajaran bagaimana mencintai mungkin itu takkan  membuat merasa sakit lebih dalam.       Tak enak makan hampir 7 hari adalah efek putusa cinta.  walaupun memutuskan untuk berdamai akan tetapi ..... ya alasannya itu sudah cukup adil, mungkin saja berkurang rasa suka.  Soe hok gie waktu tertolak bilang bahwa seolah-oalah kita adalah tentara yang menyelamatkan suatu desa. Suatu ketika kita menemukan seorang gadis diantaranya anak-anak dari penduduk de...