PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH
PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGURANGI
PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH
Ruly Ningsih
BK FIP UNY
Abstrak
Perilaku
mengganggu pada anak prasekolah merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh
anak-anak yang berada di kelas prasekolah.
Perilaku-perilaku pada umumnya merupakan perilaku yang kemunculannya tidak
diharapkan oleh guru. Perilaku
mengganggu dipengaruhi oleh faktor biologis, faktor keluarga, dan lingkungan
sosial. Perilaku mengganggu pada anak
prasekolah dapat berdampak internal maupun eksternal. Alternatif penanganan perilaku mengganggu
dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pengukuhan. Untuk mempermudah
pemberian pengukuhan terhadap perilaku yang diharapkan, maka guru dapat
mengatur jadwal pengukuhan. Guru di
prasekolah disarankan memilih pengukuhan positif sebagai teknik dalam mengatasi
perilaku mengganggu. Hal ini perlu
diperhatikan, mengingat penggunaan pengukuhan negatif dapat menyebabkan anak
memiliki asosiasi yang buruk tentang sekolah.
Keyword: anak-anak
prasekolah, perilaku mengganggu, teknik pengukuhan
Pendahuluan
Anak-anak sebagai manusia kecil memiliki lingkungan yang
memfasilitasi anak untuk berhubungan dengan sebayany. Anak-anak prasekolah merupakan memiliki
rentangan usia 2-6 tahun (Izzaty,2008:99).
Pada usia ini anak menghadapi berbagai macam perkembangan, mulai dari
perkembangan fisik, perkembangan intelektual, perkembangan sosia-emosional, dan
perkembangan moral. Lebih lanjut Izzaty
menjelaskan bahwa pada umumnya anak usia tersebut masuk pada Kelompok Bermain
dan Taman Kanak-kanak.
Anak-anak
dikelas prasekolah mulai mengenal orang lain diluar anggota keluarganya. Pihak-pihak yang bersosialisasi langsung
dikelas prasekolah misalnya: teman dan pendidik di prasekolah. Singkatnya, ketika memasuki kelas prasekolah
anak akan menghadapi situasi yang menuntut anak-anak untuk melakukan
penyesuaian sehingga tidak terjadi konflik.
Anak-anak yang tidak dapat mengatasi konflik sosial secara verbal maka
ia beralih menggunakan kekuatan fisik untuk mengatasinya (Izzaty,
2005:101). Anak-anak yang menggunakan
kekuatan fisik untuk menyelesaikan masalah biasanya dikatakan sebagai anak anak
yang memiliki perilaku mengganggu.
Perilaku
mengganggu merupakan perilaku yang muncul pada anak yang tidak diharapkan oleh
guru atau perilaku tersebut melanggar disiplin yang ada. Gordon and Browne (2004) dalam Marais dan
Corinne Meire (2010) menyatakan bahwa disruptive behaviour/ perilaku mengganggu
merupakan perilaku yang merujuk pada perilaku yang kurang tepat yang muncul
pada anak. Disruptive behavior disorders berhubungan dengan pencapaian
akademik yang buruk, fungsi keluarga, pekerjaan, dan kemampuan adaptasi pada
lingkungan sosial. Faktor biologis dapat
menjadi penyebab dari perilaku menganggu Christina Stadler, Dorte Grasmann,
dkk. (2008).
Perilaku mengganggu yang muncul pada anak prasekolah dipaparkan oleh
Amanda M. VanDerHeyden, Joseph C. Witt
dan Susan Gatti (2001).
Perilaku-perilaku mengganggu tersebut yaitu: berbicara yang tidak
pantas, meninggalkan tempat duduk, berteriak-teriak, memukul, menggigit,
menendang, menaikkan rok/baju sehingga memperlihatkan kemaluan, memindah
halaman buku yang tidak diperintahkan oleh guru, menangis, perilaku menyerang,
dan marah-marah/mengamuk. Sementara, penelitian Austin dan Deborah Bevan (2011)
menemukan perilaku-perilaku yang muncul berkaitan dengan berbicara yang tidak
pantas, memberikan label pada anak lain, memukul atau mendorong dan merusak
bahan-bahan dikelas.
Perilaku
mengganggu pada anak dipengaruhi oleh beberapa hal. Brofenbrenner (1998) dalam Izzaty memberikan
pemaparan bahwa setting terpenting yang berpengaruh dalam kehidupan anak
merupakan keluarga. Hal ini terjadi
karena sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam keluarga dan adanya
keterikatan emosi dalam keluarga. Campell (1995) dalam Rita Eka Izzaty menyatakan bahwa beberapa tingkah laku akan berubah seiring
dengan usia, namun tetap diyakini dari hasil penelitian bahwa tingkah laku bermasalah
eksternal yang muncul pada usia dini akan relatif stabil pada usia berikutnya (www.staff.uny.ac.id).
Berdasarkan
pemaparan mengenai perilaku mengganggu pada anak diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa perilaku tersebut merupakan perilaku yang tidak diharapkan. Perilaku mengganggu dapat merugikan diri dan
lingkungan anak, karena menimbulkan kerusakan.
Perilaku tersebut perlu ditangani sehingga perilaku tersebut menjadi
sesuai yang diharapkan. Artikel ini akan menguraikan tentang anak prasekolah
dan perkembangan perilakunya; perilaku mengganggu pada anak prasekolah;
penggunaan teknik pengukuhan untuk mengatasi perilaku mengganggu; dan ditutup
dengan kesimpulan.
Anak Prasekolah dan Perkembangan Perilakunya
Anak usia prasekolah menurut Syamsu Yusuf (2004:162-163) merupakan
fase perkembangan individu sekitar 2-6 tahun.
Pada usia ini anak mulai memiliki
kesadaran tentang diri sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air, dan mengenal hal-hal
yang dianggap berbahaya. Pada aspek fisik, seorang anak mengalami pertumbuhan
tubuh yang pesat. Pertumbuhan tersebut
menyangkut ukuran berat dan tinggi, mampun kekuatannya untuk lebih
mengembangkan keterampilan fisiknya dan eksplorasi terhadap lingkungan tanpa bantuan dari orang tuannya.
Pada saat anak memasuki kelas prasekolah, ia
mulai bersosialisasi dengan orang-orang diluar anggota keluarga mereka. Anak-anak mengalami serangkaian situasi
sosial yang baru dan bervariasi.
Beberapa situasi baru berhubungan dengan kegiatan bermain (Izzaty,
2005:92). Dalam kegiatan bermain
tersebut terdapat peralihan pola berian, dari permainan soliter ke permainan
paralel. Maksudnya yaitu anak berdekatan
orang lain ketika mereka terlibat kegiatan bermain. Anak-anak prasekolah akan terlibat permaian
kooperatif dengan anak lain,disisi lain anak juga merasa bahagia untuk
melakukan permainan soliter dalam jangka waktu yang lama (Izzaty,
2005:92).
Sejalan dengan
Izzaty, Seefeldt dan Barbara A. Wasik (
2008:166-168) menjelaskan karakteristik perilaku
anak-anak usia prasekolah. Pada usia
tiga tahuan anak mulai mengembangkan
banyak pengendalian terhadap diri dan dunianya.
Anak tiga tahun sudah siap menerima tata tertib sosial diruang kelas,
dan ingin membantu dengan membereskan mainan mereka, membenahi meja atau
merapikan pakaian mereka. Teman-teman
sangat penting bagi anak usia tiga tahun yang menikmati permainan paralel
bersama anak-anak lain.
Anak-anak usia
empat tahun telah mulai mengembangkan bahasa mereka. Mereka menggunakan kata-kata lucu untuk
diucapkan kemudian ketika mereka menemukan kekuatan kata-kata itu ia kan
memakainya untuk membuat orang lain terkejut.
Pada usia 4 tahun anak menunjukkan bahasa dan perilaku yang khas. Anak-anak usia 4 tahun sedang melakukan
pengujian terhadap diri mereka sendiri, batas-batas mereka, dan pada waktu yang
sama dengan siapa saja yang punya kekuasaan atas mereka. Sebagaimana mereka menjadi keterlaluan dengan
bahasa yang mereka gunakan mereka pun berlalu terlalu cepat, memanjat terlalu
tinggi serta membuat dan memerintahkan orang lain terlalu banyak. Perasaan hati sudah muncul dipermukaan, maka
dengan mudah mereka akan menjadi marah, sulit membagi serta memberi dan
menerima ketika bermain atau bekerja dengan orang lain. Permainan mereka sering liar dan tidak
terkendali, tetapi mereka masih mau bermain dengan orang lain, mau menyenangkan
teman, dan mengembangkan perilaku mengatur diri sendiri.
Sedangkan
karakteristik perilaku anak usia 5 tahun ditunjukkan dengan ia memasuki TK penuh
rasa percaya diri. Mereka yakin akan
kemampuan mereka untuk belajar dan siap menerima semakin banyak tanggungjawab
terhadap dirinya sendiri. Usia lima
tahun mampu membuat orang lain senang, tampak damai dan santai dibandingkan dengan anak usia 4 tahun. Anak usia lima tahun mulai mengagumi dunia
mereka dan ingin belajar lebih banyak.
Karakter anak usia lima tahun yaitu dapat mengendalikan emosi mereka,
namun bisa juga anak akan tiba-tiba mengamuk.
Anak
membutuhkan waktu, ruang, dan kebebasan untuk mengembangkan permainan mereka,
agar seluk-beluk permainan tidak dibatasi.
Permainan jenis tertentu seperti superhero dapat mengarah anak ke
perilaku agresi. Tetapi ketika anak
dilarang maka anak akan semakin atraktif (Izzaty, 2005:92-93).
Berdasarkan paparan
tentang perkembangan perilaku diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku
anak berkembang sesuai tahapan usianya.
Setiap usia tertentu memiliki karakteristik perilaku membedakan dari
usia sebelum dan usia setelahnya. Pada
umumnya perilaku mengalami peningkatan perbendaharaan perilaku. Pemilihan terhadap jenis permainan penting
dilakukan agar tidak mengarahkan anak pada perilaku yang tidak dikehendaki.
Perilaku Mengganggu pada Anak Prasekolah
Perilaku mengganggu merupakan perilaku yang muncul yang tidak
diharapkan. Perilaku tersebut mengganggu
proses belajar di prasekolah. Perilaku
mengganggu di kelas prasekolah ditandai dengan tiga indikator penting yaitu
ketidak mampuan anak dalam menyesuaikan diri, intensitas perilaku yang dilihat
dari dampak perilaku yang ditimbulkan, dan frekuensi perilaku yang
sering/relatif stabil. Perilaku
mengganggu pada anak prasekolah bermacam-macam.
Rita Eka Izzaty membagi permasalahan perilaku yang muncul pada anak
prasekolah menjadi 3 kelompok besar, yaitu: perilaku dengan kegelisahan,
perilaku ketidakmatangan, dan perilaku yang merujuk pada keadaan emosi. Perilaku dengan kegelisahan ditunjukkan
dengan perilaku agresif, tantrum , konsentrasi rendah, terlalu aktif, sulit
diatur, dan perilaku merusak. Sedangkan
perilaku ketidakmatangan merujuk pada perilaku ketergantungan secara
berlebihan, konsentrasi rendah, menarik diri, dan sangat sensitif. Perilaku ketiga, merujuk pada keadaan emosi
ditandai dengan perilaku kecemasan, temper tantrums, buang air kecil/besar
dicelana, menunjukkan banyak reaksi ketakutan, menuntut perhatian, dan menangis
secara berlebihan (www.staff.uny.ac.id).
Perilaku mengganggu
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: faktor biologis, faktor
keluarga, dan lingkungan sosial. Faktor biologis berkaitan dengan pertumbuhan
fisik yang berpengaruh terhadap psikologis anak. Anak memiliki perkembangan pada perilaku
tertentu sangat tergantung dengan faktor kesiapan atau kemasakan organ-organ
biologis dan pertumbuhan fisiknya (Rita
Eka Izzaty). Sebuah studi menunjukkan
bahwa denyut jantung dapat menjadi prediktor yang penting pada anak-anak yang
berperilaku mengganggu. Denyut jantung
yang tinggi menunjukkan bahwa anak
memiliki perilaku mengganggu yang tinggi (Christina Stadler, Dorte Grasmann,
dkk) (2008). Rita Eka Izaaty menambahkan
bahwa keadaan keluarga dapat menjadi penyebab masalah emosional yang berdampak
pada perilaku pada anak-anak. Orangtua
yang berpendidikan rendah, usia yang masih muda, ketidaksensitifan terhadap
perkembangan anak, kurang terlibat secara afeksi terhadap lingkungan sosial dan
pendidikan anak, harapan yang tidak realistis, gaya pengasuhan yang terlalu
keras, komposisi dalam keluarga dapat menjadi penyebab perilaku anak yang
berasal dari lingkungan keluarga. Selain
kedua faktor diatas, perilaku anak dapat juga dibentuk dari lingkungan
sosialnya. Lingkungan sosial yang
nampak berpengaruh dalam membentuk pola-pola perilaku anak-anak. Fenomena meniru perilaku orang lain dapat
menyebabkan anak berperilaku yang mengganggu.
Perilaku pada
yang terjadi pada anak dapat berdampak baik secara internal maupun eksternal
pada anak (Rita Eka Izzaty). Dampak
internal yang terjadi yaitu akibat yang tertuju pada diri sendiri, munculnya
emosi negatif dan temperamen yang sulit, serta tidak mampu beradaptasi (Bates
dan Bayles, 1988), perkembangan kognitif yang terhambat berkenaan dengan
ketidakmampuan menyesuaikan dengan program kegiatan belajar (Stevenson dalam
Koot, 1996) dalam (Rita Eka Izzaty). Sedangkan,
dampak eksternal yaitu akibat yang tertuju pada lingkungan anak, seperti
mengganggu suasana kelas serta penolakan teman sebaya (Grainger,1997) dalam
(Rita Eka Izzaty).
Berdasarkan
uraian diatas dapat ditarik simpulan bahwa perilaku mengganggu merupakan
perilaku yang tidak dikehendaki. Perilaku
yang tidak dikehendaki secara umum dibagi menjadi 3, yaitu: kegelisahan,
perilaku ketidakmatangan, dan perilaku yang merujuk pada keadaan emosi. Perilaku
mengganggu yang terjadi pada anak dipengaruhi oleh faktor biologis, faktor
kelurga, dan faktor sosial. Peilaku
mengganggu tidak hanya memiliki dampak yang tertuju pada diri anak namun dapat
menimbulkan dampak eksternal bagi anak.
Mengatasi Perilaku
Mengganggu pada Anak Melalui Teknik Pengukuhan.
Pada bagian ini akan dibahas mengenai teknik pengukuhan untuk
mengatasi perilaku. Purwanto menjelaskan
bahwa teknik pengukuhan ini diilhami oleh eksperimen tikus yang dilakukan oleh
Skinner. Terdapat 2 macam teknik pengukuhan
yaitu pengukuhan negatif dan pengukuhan positif. Pengukuhan negatif yaitu berulangnya suatu
perilaku karena perilaku tersebut terhindari dari konsekuensi yang tidak
menyenangkan. Bila dikurangi atau
dihilangkannya suatu stimulus menyebabkan perilaku meningkat atau terpelihara,
maka stimulus ini disebut pengukuh negatif.
Pengukuh negatif dapat bermacam-macam bentuknya (Purwanta,
2005:68). Semua hal yang tidak
menyenangkan secara potensial dapat menjadi pengukuh negatif. Deprivasi atau kekurangan benda-benda
pemenuhan kebutuhan , secara potensial dapat menjadi pengukuh negtif. Penguat negatif yang berbentuk sosial
misalnya: cemberut, dipelototi, diancam, dicemoohkan, disindir, diomeli. Seefeldt dan Barbara Wasik (2008:39) menambahkan
bahwa peringatan, pekikan atau hukuman seperti tamparan dapat juga berfungsi
sebagai penguat/pengukuh negatif.
Pengukuhan
negatif memiliki kelemahan-kelemahan yang perlu diperhatikan. Beberapa diantara kelemahan tersebut
dijelakan Purwanta (2005:70), yaitu: (1)
pengukuh negatif yang disajikan harus berupa stimulus aversif yang seringkali
tidak menyenangkan bagi penyajinya sendiri. Hal ini menyebabkan penyaji tidak
sampai hati untuk menggunakan pengukuh tersebut, (2) penyajian pengukuh negatif
yang berulang kali dapat menghilangkan daya aversifnya, misalnya sering diomeli
maka anak akan cenderung mengabaikan omelan tersebut, (3) reaksi terhadap
pengukuh negatif tidak selalu berupa perilaku sasaran. Reaksi tersebut dapat berupa agresi atau
emosi yang tidak konstruktif terhadap pemberi pengukuh, (4) pengukuh negatif
yang diberikan dikelas prasekolah, maka akan tertanam asosiasi sekolah dengan
hal-hal yang aversif, serta (5) usaha dari anak untuk menghindari perilaku
aversi dapat menimbulkan kecemasan, yang bila mencapai kecemasan tertentu dapat
mengarah pada penyimpangan perilaku (seperti neurotis, psikosomatis, dan
lain-lain).
Berdasarkan
pemaparan mengenai pengukuhan negatif, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
penguatan negatif merupakan penguatan yang sifatnya tidak menyenangkan. Sifat pengukuh yang aversi menyebabkan
pengukuh ini kurang cocok ketika diberikan disekolah karena dapat tertanam
asosiasi yang buruk tentang sekolah.
Apabila asosiasi yang kurang menguntungkan tentang sekolah mencapai
kadar kecemasan tertentu maka dapat
menimbulkan penyimpangan perilaku.
Pengukuhan yang kedua yaitu pengukuhan positif. Pengukuhan positif merupakan suatu peristiwa
menghadirkan dengan segera yang mengikuti perilaku; yang menyebabkan perilaku
tersebut kemunculan/frekuensinya meningkat.
Skinner (Purwanta, 2005:28) merancang suatu eksperimen yang menguji
tentang efek hadiah dan efek hukuman terhadap Perubahan Perilaku. Hukuman tidak efektif untuk membentuk
perilaku dalam jangka waktu yang panjang.
Sedangkan ketika perilaku diberikan reward maka frekuensi kemunculannya
akan semakin tinggi. Hasil untuk
eksperimen dapat dilihat gambar dibawah ini.
Gambar 1. Efek Hadiah dan Efek Hukuman
|
HADIAHDIA
|
|
HUKUMAN
|
Prinsip pengukuhan positif dijelaskan
oleh Purwanta (2005:35) bahwa jika suatu situasi seseorang melakukan sesuatu
kemudian diikuti dengan segera oleh penguat positif, maka orang itu akan
cenderung mengulanginnya untuk melakukan hal yang sama pada situasi yang
cenderung sama. Stimulus yang dihadirkan
menjadi konsekuensi perilaku dan
menyebabkan perilaku terpelihara, disebut positive reinforcement. Contoh dalam memberikan pengukuhan positif
non materi yaitu dengan menepuk pundak dengan hangat, senyum, maupun pelukan
kasih sayang. Sementara, pengukuhan
positif berwujud materi dapat dilakukan misalnya dengan memberikan uang.Prosedur
yang harus dilakukan dalam memberikan pengukuhan positif/positive reinforcer
atau biasa disinonimkan dengan
hadiah (Martin dan Pear) dalam (Purwanta, 2005:35) ada sembilan prinsip.
Prinsip yang pertama dalam memberikan pengukuhan yaitu dengan
menyegerakan memberikan pengukuhan ketika perilaku yang diinginkan telah
muncul. Pemberian pengukuhan dengan
segera lebih efektif daripada diberikan secara tertunda (Purwanta,
2005:39). Hal ini terjadi karena
perilaku tersebut belum diselipi oleh perilaku lain pada saat mendapatkan penguat. Apabila prinsip itu dilakukan maka frekuensi,
besaran dan kualitas perilaku dapat dipertahankan.
Selain memberikan pengukuhan dengan segera, prinsip ke-2 yang perlu
diperhatikan yaitu memilih penguat yang tepat (Purwanta, 2005:40-54). Tidak semua imbalan dapat menjadi penguat
positif terhadap perilaku yang terjadi.
Setiap individu mempunyai selera yang berbeda dan setiap situasi dapat
menimbulkan perubahan selera. Berbagai
alternatif pilihan yang dapat dijadikan sebagai penguat, yaitu penguat dapat
berbentuk materi maupun non materi.
Ketepatan memilih reinforcer/pengukuh dapat menentukan
kualitas pemeliharaan perilaku (Purwanta, 2005:34).
1)
Makanan
Penguat
makanan hendaknya hanya digunakan bila penguat lain tidak efektif. Apabila penggunaan makanan terlalu banyak
sebagi imbalan dapat mengganggu selera makan yang sehat pada anak. Ketika menggunakan makanan sebagai penguat,
maka dapat dipilih makanan yang bergizi.
2)
Benda-benda
konkrit
Untuk
anak-anak dapat menggunakan mainan, potongan mainan, baju boneka, dan
lain-lain.
3)
Benda
yang dapat ditukar sebagai penguat
Guru
memberikan simbol/koin yang dapat digunakan sebagai penguat bila dinyatakn
dapat ditukar dengan hadiah. Purwanta (2005:50) menyatakan bahwa keuntungan
menggunakan benda isyarat sebagai pengukuh yaitu benda ini dapat diberikan
seketika ketika perilaku yang diharapkan muncul.
4)
Aktivitas
Pengukuhan
positif dapat diberikan dengan menjanjikan suatu kegiatan yang menyenangkan
ketika perilaku muncul.
5)
Tindakan
bersifat sosial
Tindakan
sosial sebagai pengukuh dapat dilakukan dengan memberikan pujian baik verbal
mapun non verbal ketika perilaku muncul.
Ungkapan/pujian merupakan pengukuh sosial yang efektif. Untkapan atau pujian yang efektif sebagai
pengukuh sosial yaitu yang bersifat spesifik bagi perilaku yang dipuji.
“Pinter
! Wati bisa merapikan mainan sendiri !”
Prinsip ketiga yang perlu diperhatikan dalam memberikan pengukuhan
yaitu dengan mengatur kondisi situasional (Purwanta, 2005:55-56). Situasi pada saat penguat diberikan
berpengaruh terhadap keberhasilan penguat tersebut. Agar perilaku yang mendapatkan pengukuhan
berulang pada saat dan tempat yang tepat maka perlu diatur kondisi situasional
penguat. Bila yang diharapkan perilaku
yang membedakan saat/tempat maka pengukuhan diberikan pada saat/tempat yang
diinginkan. Sebaliknya, bila pengukuhan
perilaku ditujukan agar bersifat umum, maka pengukuhan juga pada saat situasi
umum. Cara yang dapat dilakukan oleh
guru yaitu dengan menekankan unsur-unsur kesamaan yang memungkinkan subjek
memiliki konsep kapan suatu perilaku harus diulang. Misalnya: ada seorang anak yang berbicara
tidak pantas. Anak telah berhasil
dikuatkan untuk berbicara yang baik ketika disekolah. Agar di manapun ia juga mempertahankan
kata-kata baik maka dikomunikasikan pada anak pentingnya ucapan yang baik
dimana pun ia berbicara.
Prinsip keempat yang perlu diperhatikan yaitu menentukan kuantitas
penguat (Purwanta, 2005:56). Kuantitas
pengukuh yaiu banyaknya pengukuh yang
diberikan ketika perilaku yng diharapkan muncul. Kuantitas pengukuh tergantung pada beberapa
pertimbangan. Pertimbangan tersebut
antara lain macam pengukuh, keadaan deprivasin dan peritmbangan usaha yang
harus dilakukan untuk mendapatkan pengukuhan.
Pengukuh harus seimbang dengan besarnya usaha yang dikeluarka untuk
mencapai kriteria perilaku tertentu.
Prinsip kelima yang perlu diperhatikan yaitu memilih kualitas
penguat. Anak cenderung memilih sesuatu
yang baru dan berkualitas tinggi.
Sesuatu yang baru cenderung menghilangkan kebosanan atau kejenuhan,
sehingga dapat menjadi pengukuh yang kuat.
Kualitas pengukuh yang tidak sesuai dengan harapan menyebabkan
efektivitasnya menurun, bahkan tidak efektif (Purwanta, 2005:58).
Prosedur yang keenam yaitu memberikan sample pengukuh (Purwanta,
2005:59). Pemberian sample pengukuh yang
belum dikenal tidak efektif karena dapat menimbulkan keraguan atau ketakutan. Maka kadang-kadang perlu diperkenalkan dulu
dengan memberikan sample.
Prosedur ketujuh (Purwanta, 2005:59-60) yaitu dengan melakukan penanggulangan pengaruh
saingan dalam memberikan pengukuh.
Banyak pengukuh maupun hukuman yang bisa saja menimpa perilaku seseorang yang berupa reaksi dari
lingkungan maupun dari diri sendiri terhadap perilaku. Reaksi yang lebih kuat dari reaksi yang lain,
akan saling bersaing dan menimbulkan konflik.
Reaksi yang memberikan dukungan pada terpenuhinya kebutuhan hidup (pangan,
sandang, dan papan) lebih kuat dari pada yang memberikan pengaruh lain. Hubungan perilaku-pengukuh dan
perilaku-hukuman yang terdapat dalam kehidupan subjek perlu diinventarisasi
agar efektif dalam memberikan pengukuh.
Prosedur yang selanjutnya, yaitu pengaturan jadwal pengukuhan
(Purwanta, 2005:60-67). Jadwal pemberian
pengukuhan merupakan aturan yang dianut oleh pemberi pengukuh dalam menentukan
di antara sekian kali suatu perilaku timbul, kapan atau yang mana yang akan
mendapatkan pengukuh. Secara garis besar
jadwal pengukuhan dapat dibagi atas dua kelompok besar yaitu:
1.
Jadwal
pengukuhan terus menurus (continuous reinforcement schedule atau CRS),
ialah pengukuhan yang diberikan secara terus menerus setiap perilaku sasaran
timbul. Jadwal pengukuhan terus menerus
memperkuat perilaku dengan cepat, tetapi perilaku akan cepat pula terhapus
apabila pemberian pengukuh dihentikan.
Jadwal pengukuhan perilaku secara terus menerus kurang efektif dan
kurang efisien, maka jadwal ini perlahan-lahan diubah ke jadwal berselang.
2.
Jadwal
pengukuhan berselang atau jadwal pengukuhan sebagian (intermittent
reinforcement schedule atau IRS atau partial schedule), ialah
pengukuh diberikan tidak terus menerus setiap perilaku-sasaran timbul. Sehingga hanya sebagian perilaku yang
mendapat pengukuh. Jadwal pengukuhan
berselang (tergantung pada pengaturan jangka waktunya) dapat secara cepat atau
lambat memperkuat perilaku. Tetapi
jadwal pengukuhan berselang cenderung lebih dapat mempertahankan perilaku yang
dikukuhkan. Jadwal pengukuhan berselang
lebih efisien dalam pemeliharaan perilaku.
Pengukuhan berselang menghindari efek kejenuhan atau kekenyangan. Pada anak, diharapkan terbentuk motivasi
intrinsik menggantikan pengukuhan, sehingga pengukuhan external tidak
diperlukan lagi.
Martin dan Pear (1992) dikutip Purwanta (2005:62) mengemukakan
beberapa hal. Keuntungan-keuntungan
tersebut, diantaranya: (1) pengukuhan tetap efektif bila digunakan pada jangka
panjang karena kejenuhan berkurang, (2) perilaku yang telah dikukuhkan dengan pengukuhan
berselang dapat bertahan lama, (3) anak/individu akan berbuat lebih konsisten,
serta (4) perilaku yang terbentuk dengan pengukuhan berselang lebih siap
ditransfer ke situasi lain atau lingkungan yang lebih natural.
Ada beberapa macam jadwal pengukuhan berselang, yaitu: jadwal
berjangka waktu (interval schedule), dan jadwal berjangka ulang (ratio
schedule). Jadwal pengukuhan
berjangka waktu yaitu pemberian pengukuhan didasarkan pada lamanya tenggang
waktu. Bila perilaku-sasaran tinbul
selama tenggang waktu tertentu, perilaku tersebut mendapatkan penguat tanpa
mempedulikan beberapa kali perilaku tersebut muncul. Apabila tenggang waktu pemberian pengukuh ini
sama (konstan), maka jadwal ini disebut jadwal berjangka waktu sama. Sedangkan bila tenggang waktu pemberian
pengukuh tidak sama atau bervariasi, maka jadwal ini disebut jadwal berjangka
waktu bervariasi. Efek jadwal terhadap
pola perilaku yaitu meningkat deretan teratur.
Ilustrasi tentanga jadwal pengukuh berjangka tetap (FI) dan berjangka
berbeda (VI), seperti terlihat pada gambar 2 dibawah ini (Soetarlinah
Soekadji,1983) dalam Purwanta, 2005:1983).
Gambar 2. Pengukuhan Perilaku dengan Jadwal Berjangka
Tetap (FI)
|
Frekuensi kumulatif belajar
|
|
Daerah tanpa pengukuhan
|
Grafik ini menunjukkan perilaku belajar seseorang yang tidak
mempunyai motivasi intrinsik. Dengan
jadwal berjangka waktu tetap selama waktu tertentu ia cenderung belajar paling
giat pada saat menjelang ujian akhir. Bila
diberlakukan jadwal berbeda-beda (VI) misalnya sewaktu-waktu ujian dapat
dilakukan maka anak cenderung belajar lebih teratur.
Jadwal pengukuhan kedua yaitu jadwal pengukuhan berjangka
ulang. Jadwal pengukuhan berjangka ulang
yiatu pengarutan pemberian pengukuh berulang pada banyaknya perilaku
berulang. Artinya, pengukuh diberikan
setelah mencapai cacah yang ditenutukan.
Bila cacah yang ditentukan ini sama dari satu pengukuh ke pengukuh
selanjutnya maka ini disebut jadwal pengukuhan berjangka ulang sama (FR). Dampak yang ditimbulkan dari jadwal ini ialah
perilaku berulang dengan cepat. Bila pengukuhan
diberikan setelah perilaku berulangpada cacah uang ditentukan, dan cacah ini
berbeda dari satu waktu ke waktu yang lain (biasanya mempunya cacah rata-rata
tertentu) maka jadwal ini disebut jadwal pengukuhan berjangka ulang berbeda
(VR). Akhibat jadwal ini perilaku berulang
paling cepat bila dibandingkan dengan jadwal-jadwal lain, sampai dapat membuat
kelelahan yang menyebabkan kualitas perilaku menurun.
Perbedaan jadwal menimbulkan perbedaan pola berulangnya perilaku
yang terbentuk. Pemilihan jadwal
tergantung pada situasi, kondisi, sarana, prasarana, dan rancangan program yang
akan dilaksanakan. Dalam artikel ini
program yang dimaksud yaitu program pengurangan perilaku mengganngu. Apabila guru menginginkan pengurangan
perilaku dengan segera maka jadwal terus menerus dengan pengukuh kuat yang
digunakan. Bila perilaku yang sudah
timbul ingin dipelihara, maka secara gradual dialihkan ke jadwal berselang.
Prosedur yang kesembilan, yaitu penanggulangan efek kontrol
kontra. Kontrol kontra ialah kontrol
atau pengaruh yang sadar atau tidak sadar dilakukan oleh subjek terhadap orang
yang memberi pengukuh atau hukuman (Purwanta, 2005:66). Kontrol kontra akan menurunkan efektifitas
pengukuh, karena akan mendorong rasa iba pada akhirnya pengukuh kurang bekerja
dengan baik.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan jika
pengukuhan positif memiliki banyak keunggulan untuk meningkatkan dan memelihara
perilaku. Subyek yang mendapatkan
pengukuhh positif cenderung menggeneralisasikan kepada dirinya sebingga merasaa
dirinya berharga. Hubungan antara
penerima dan pemberi pengukuh pun menjadi baik karena pengukuhnya diasosiasikan
dengan sesuatu yang menyenangkan. Cara
mendisiplinkan anak dengan pengukuhan positif ini dirasakan sebagai disiplin
yang menggunakan kasih-sayang. Berbagai
keunggulan, menyebabkan prosedur ini menjadi pilihan pertama. Selain mempunyai efek positif dalam meningkatkan
dan memelihara perilaku secara individu, pengukuhan positif juga mempunyai
efektivitas dalam penyajian kelompok.
Penutup
Anak usia prasekolah sedang belajar mengembangkan perilakunya. Ketika prosesnya, anak dihadapkan pada
perilaku yang kurang menguntungkan pada dirinya. Ketidak mampuan anak mengontrol perilakunya
merupakan salah satu indikator yang harus diperhatikan oleh pendidik di
prasekolah. Anak memiliki bermacam-macam
perilaku yang kurang menguntungkan. Oleh
sebab itu maka perlu ditemukan salah satu alternatif untuk membantu mengatasi
perilaku anak. Teknik pengukuhan dapat menjadi alternatif mengatasi perilaku mengganggu pada anak
prasekolah. Ketika memilih teknik
pengukuhan maka guru (pihak terkait) dapat memilih pengukuhan negatif maupun
pengukuhan positif. Guru di prasekolah dapat
memilih pengukuhan positif sebagai alternatif penganganan perilaku mengganggu
pada anak-anak. Pengukuhan yang
digunakan di sekolah berdampak pada asosiasi anak terhadap sekolah. Apabila guru menggunakan pengukuh negatif,
maka anak cenderung mengasosiasi sekolah
dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.Penggunaan teknik pengukuhan
positif dapat berlangsung efektif apabila memperhatikan sembilan prosedur
prinsip dalam memberikan pengukuhan.
Daftar Pustaka
Izzaty,
Rita Eka, Siti Partini Suardiman, dkk. 2005. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Purwanta,
Edi. 2005. Modifikasi Perilaku Alternatif Penanganan
Anak Luar Biasa. Jakarta:Depdiknas.
Seefeldt, Carol
dan Barbara A. Wasik. 2008. Pendidikan
Anak Usia Dini Menyiapkan Anak Usia Tiga, Empat, dan Lima Tahun Masuk Sekolah. Jakarta: PT Indeks.
Syamsu yusuf.2004. Psikologi
perkembangan anak dan remaja. bandung:PT Remaja Rosdakarya Offset
Austin,
L. Jenifer dan Deborah Bevan. 2011.
Using Differential Reinforcement Of Low Rates To Reduce Chidreen’s
Request for Teacher Attention. Jounal
of Applied Behavior Analysis. Volume 3. University Of Glamorgan.
Stadler,
Christina, Dorte Grasmann, dkk. 2008. Hearth Rate and Treatment Effect in
Childreen with Disruptive Behavior Disorders.
39:299-309.
Marais, Petro and Corinne Meier.2010.Disruptive behaviour in the
Foundation Phase of schooling. South
African Journal of Education .Vol 30:41-57
Rita
eka Izzaty. Strategi Penanganan Tingkah
Laku Bermasalah Eksternalisasi melalui Teknik Pembiasaan Komunikasi Verbal
sebagi Bentuk Penghindaran Perlakuan Kekerasan pada Anak Prasekolah. www.staff.uny.ac.id
Rita
Eka Izzaty. Permasalahan Perkembangan
Anak Prasekolah dan Peran Pendidik dan Orangtua dalam Menghadapinya. www.staff.uny.ac.id
VanDerHeyden,
Amanda M., Joseph C. Witt, dan Susan Gatti.
2001. Descriptive Assessment
Method to Reduce Overall Disruptive Behavior in a Preschool Classroom. Vol 30. Pp. 548-567
Komentar
Posting Komentar