BK SOSIAL

Bimbingan dan Konseling Sosial
1.        Objek material dan objek formal ilmu jiwa sosial/psikologi sosial sebagai landasan utama implementasi layanan BK sosial:
-          Objek material ilmu jiwa sosial:  gejala-gejala sosial, berupa fakta-fakta dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan  sosial individu dalam lingkungan masyarakat ataupun komunitasnya.  Gejala-gejala sosial dipelajari dari sudut pandang kegiatan mental/jiwa manusia baik sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial.
-          Objek formal ilmu jiwa sosial:  berada diantara sosiologi dan psikologi, melalui perpaduan keduanya lahir psikologi sosial.

2.        Tujuan  layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari perspektif ekologi sosial:
-          Mengakomodasi perubahan sistem sosial yang ada yang secara langsung maupun secara tidak langsung turut berpengaruh terhadap perkembangan individu.  Untuk membantu perubahan individu konselor tidak cukup dengan langsung mengarahkan/memberi bantuan pada individunya tetapi membantu lingkungan  untuk mengakomodasi/memfasilitasi perubahan indiviu.  Dasar munculnya teori ekologi sosial adalah teori medan, yang mana teori ini mengemukakan bahwa perilaku merupakan perpaduan antara fungsi organisme dengan lingkungan.  Menurut teori medan individu tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial dan lingkungan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian teori ini diturunkan menurut perspektif ekologi.  Sejajar dengan teori Kurt Lewin, maka dalam teori ekologi menyatakan bahwa individu tidak berkembang dalam isolasi tetapi merupakan rangkaian interaksi dari beberapa sistem yang ada. Urie Bronfenbrenner membagi beberapa lapisan yang berpengaruh terhadap perkembangan individu. Mulai dari lapis mikrosistem (keluarga, sebaya, sekolah), mesosistem (hubungan antar mikro, hubungan sekolah dengan orang tua, hubungan anggota dengan teman sebaya), eksosistem (kondisi kemiskinan, rumah dipelosok), makrosistem (struktur sosial, kebudayaan suatu negara dengan negara lain yang berbeda-beda) dan kronosistem (perjalanan level dari sistem mikro ke makro).  Setiap lapisan  lingkungan secara dinamis mempengaruhi perkembangan individu. 
-          Membangun kesadaran masyarakat, kesadaran yang perlu dibangun diantaranya adalah kesadaran kritis dan kesadaran transformatif.  Kesadaran kritis yaitu suatu kesadaran dimana seseorang itu mampu memahami persoalan sosial mulai dari pemetaan masalah, identifikasi permasalahan serta mampu menentukan unsur-unsur yang mempengaruhi terjadinya masalah. Selain itu ia memiliki alternatif-alternatif (dapat merumuskan suatu solusi) untuk menyelesaikan permasalahan.  Kesadaran yang lebih tinggi yaitu kesadaran transformatif.  Kesadaran transformatif yaitu bentuk kesadaran dimana seseorang tidak hanya memiliki ide/merumuskan solusi namun ia juga melakukan tindakan untuk menyelesaikan masalah.  Tidak hanya “no action talk only”.  Ia mampu melakukan tindakan-tindakan strategis guna menghilangkan penyebab-penyebab adanya marginalisasi.
-          Melakukan pendampingan terhadap masyarakat untuk memberdayakan masyarakat.  Pemberdayaan masyarakat tidak hanya berwujud material, karena tidak semua masyarakat mengalami degradasi secara material.  Namun kadang masyarakat mengalami degradasi secara psikologis.  Mereka membutuhkan pengakuan eksistensinya secara psikologis.

3.        Tujuan yang diharapkan dari proses persepsi sosial yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari:
-          Mengetahui pikiran, perasaan, dan kehendak orang lain.
-          Membaca tanda dari orang lain berupa ekspresi wajah, tekanan suara, gerak-gerik tubuh, kata, dan perilaku.
-          Individu dapat menyesuaikan diri dengan keberadaan orang lain sesuai dengan pembacaan terhadap orang lain.
-          Berusaha menerjemahkan perilaku non verbal untuk mengetahui niat, mengelola interaksi, mengungkapkan keakraban/keintiman, mendominasi atau mengendalikan orang lain, dan menunjukkan apresiasi.

4.        Bentuk-bentuk intervensi sosial yang dilakukan oleh konselor sekolah pada lapisan mikrosistem dan mesosistem:
-          Intervensi pada lapisan mikrosistem:  mengakomodasi perubahan lingkungan keluarga, sebaya dan sekolah untuk membantu memfasilitasi perubahan individu.  Melakukan pendampingan terhadap pendidikan dilingkup keluarga, karena pendidikan keluarga (pola asuh) akan berpengaruh terhadap kepribadian individu.  Melakukan pendekatan-pendekatan dengan kelompok psikologis/geng  tertentu, atau kelompok-kelompok teman sebaya.  Melakukan intervensi terhadap kebijakan-kebijakan dilingkungan persekolah untuk membantu menciptakan situasi yang nyaman bagi anak.

-          Intervensi pada lapisan mesosistem:  mengakomodasi hubungan antara orang tua dan guru, orang tua dengan peer, pelayanan kesehatan berinteraksi dengan keluarga anak dan sekolahnya.  Seorang konselor sekolah seharusnya dapat memfasilitasi hubungan sekolah dengan masyarakat/keluarga.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROSPEK KELANJUTAN STUDI LULUSAN SMK JURUSAN TATA BUSANA

PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH

GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”