BUKAN JITSKE...

Bukan Jitske
Saat ini, saya masih melamar kerja di lembaga bimbingan belajar atau sekolah agar bisa mendapatkan uang untuk sekedar membeli pulsa. Hari-hari diisi dengan mengurus ternak kambingku.  Kambingku bernama bayi gendat, bayi gendut, dan mamanya si kembar.  Kambing ini ku beli dengan sisa uang beasiswa senilai 425.000 rupiah.  Sekarang kalau dijual mungkin sudah mencapai angka 3 juta rupiah.  Ibu gendat gendut yang kubeli 425.000 mungkin bisa mencapai angka 900.000 kalau dijual.  Bayi 5 bulan gendat gendut, 2 bocah itu bisa sampe 2 juta lebih, karena semuanya jenis kelamin laki2 dengan perawakan bagus.  Sore hari, saya pergi mencari rumput dengan simbok untuk ketiga kambingku.  Lalu, saya mengajari adik-adik baik yang SD maupun yang sudah kuliah untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan baik. Saya merasa senang membantu mereka.  Pada hari minggu sore, secara rutin saya dan remaja mengaktifkan kegiatan TPA di masjid  Al-Fajar.   Aku berencana untuk menghidupkan gerakan anti bullying di TPA, dan memulai usaha.  Aamiin.  Intinya belum bekerja. 
Aku hidup diantara permainan kebijakan dari orang-orang yang kuat. Entahlah kuat secara apa, yang pasti ia kuat untuk mengubah untuk kearah baik/kearah sebaliknya.  Berkaca dari beberapa waktu lalu, setiap ganti menteri ganti kebijakan.  Seolah2 kebijakan ini dibuat seenak “buntut” mereka.  Hahaha….  Barangkalai saya juga hidup diantara orang yang sudah di atas tidak mau bekerja professional, yang belum bekerja tidak diberi kesempatan kerja yang luas.  Kalau mau menjadi PNS guru harus di bebankan berbagai aturan tambahan.  Tidak cukup sarjana pendidikan saja, yang SM 3 T, yang udah pengabdian, dan yang yang yang lain.  Dan juga beberapa tahun lalu sudah terjadi pengangkatan besar-besaran tenaga pendidikan, dengan kualifikasi yang entah berantah.  Yang mau ngabdi diangkat, dan sebagainya.  Akhibatnya bayangkan seorang guru SD kelas 1 kesulitan mengerjakan porogapit/pembagian.  Pertanyaan besarnya adalah apakah pengabdian itu sebanding lurus dengan kemampuan mendidik/kualifikasi akademik, kualifikasi professional?  Jawabannya Tidakkkk.
Mungkin benar saja kalau saya pinjam kata2 Pak Darmaningtyas, Pendidikan itu Memiskinkan.  Meskipun begitu, konyolnya saya masih mempercayai bahwa pendidikan bisa melepaskan saya dari kemiskinan, kebodohan moral, kebodohan intelektual, dan penyakit laten lainnya.  Entahlah, mungkin karena doa Alm. So Perwito yang mengingkan saya menjadi seorang pendidik.  Saya melanjutkan program magister.  Insyaalloh, September saya memulai studi S2 Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Yogyakarta.  Ada satu keyakinan dan doa bahwa saya harus menjawab tantangan dari salah seorang dosen yang memberikan mimpi itu secara gratis terhadap saya.  Terimakasih nasihat Dr. Suwarjo, M. Si. atas motivasi dan nasihatnya.  Teringat dengan jelas nasihat waktu itu bagi kami pada saat bimbingan skripsi.  Sekali lagi, nasihat itu tantangan dan tekad bagi kami begitu kuat untuk mewujudkannya.  Setengah tidak percaya, atau setengah percaya.  Bahkan aku hidup diantara untuk mencari inspirasi pun saya harus membayar seminar dengan mahal. Hahahah stupid.
Bayangkan, aku hidup diantara orang-orang yang susah dibedakan antara ia tulus atau melakukan sesuatu dengan tendensi (niat tersembunyi).  Anehnya, saya hampir selalu menjadi seperti mereka.  Bagaimana tidak?  Ketika engkau tulus, engkau selalu berhadapan dengan orang-orang yang mana mereka memiliki topeng untuk menutupi apa yang ingin dia sembunyikan.  Lalu aku mulai mengingat kata-kata pada sebuah film korea “saat engkau menjadi pelaku kejahatan, engkau bukan lagi korban yang memiliki hak-hak istimewa tetapi engkau adalah penjahat yang kehilangan hak-hak untuk menuntut”.  Sekarang saatnya tetap berjalan pada ketulusan untuk membantu orang lain. 
Tetapi ada 1 hal yang pasti, saat senggang belum bekerja ini, saya menemukan orang-orang yang “keras” kuat pendirian.  Beberapa kali di waktu luang, saya menyempatkan datang ke perpustakaan daerah. Saya mengenal mereka melalui membaca buku tentang kehidupan mereka. Baik yang ditulisa mereka sendiri atau yang ditulis oleh oranglain.  Saya membaca buku tentang kehidupan Soekarno, Pramoedya Ananata Toer, Jitske Mulder (Ruth Havelar, nama pena), dan sebelum ini saya juga sudah berkenalan dengan   tulisan Darmaningtyas.  Berbagai tulisan ini memiliki kesamaan isi yang membuat saya benar-benar tertarik yaitu mengungkap bagaimana sistem pemerintahan rezim Soeharto yang berkuasa selama 30 tahun an.  Disana ada praktek pelanggengan kekuasaan, pembantaian kemanusiaan, pemutarbalikan sejarah, pembunuhan budaya demokrasi baik melalui tulisan maupun lisan, dan lain sebagainya.  benar-benar sulit dibayangkan.
Iya, saya bukan Jitske Mulder perempuan Belanda yang memiliki cinta yang kuat.  Mampu mencintai tanpa syarat, mampu mencintai lelaki Indonesia yang memiliki hidup tidak pasti.  Laki-laki itu adalah seorang tahanan politik, yang sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk kembali ke penjara dan melakukan kerja paksa.   Suami yang hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk memberikan kehidupan yang layak untuk keluarganya.  Di adili tanpa proses pengadilan, banyak orang yang mengalaminya pada saat itu.  Bahkan anaknya yang lahir dari seorang ayah tahanan politik ikut menanggung dosa.  Nyawanya ikut terancam apabila dia masuk dalam formulir pendaftaran anggota keluarga dari seorang tapol.  Maka beruntung jika dalam formulir tahanan politik itu sudah penuh dengan diisi oleh anggota keluarga yang sudah meninggal. Artinya tidak ada ruang untuk menuliskan nama-nama anggota keluarga yang masih hidup sehingga yang hidup tetap akan hidup.    Jitske Mulder menyebutkan dalam bukunya itulah arti si mati menyelamatkan yang masih hidup. 
Mungkin karena saya bukan Jitske, saya belum bisa menjalin hubungan dengan baik dengan Mas D. hubungan yang terjalin selama hampir 2 tahun an, berakhir 31 Desember 2015.  Mungkin diantara kami belum bisa menerjemahkan apa yang namanya cinta tanpa syarat. Bahwa saya tidak benar-benar menyesal telah memiliki cinta dihati untuknya. Bahwa saya telah bersyukur pernah mencintainya.  Bahwa saya pernah menangis untuknya di kala sunyi.  Saat itu,  saya merindukannya saat-saat  bersamanya.  Saya tidak benar-benar menyesal telah memulai mengenalnya.   Bahwa saya tidak mencintai orang lain saat more than 2 tahun mencintainya.    Saya tidak menyesal untuk semuanya.  Saya tidak menyesal pernah saling marahan dengan Mas D waktu itu.  Saya tidak menyesal bahwa saya suka menegur saat rambut panjang, atau menegur saat gak sengaja melihat kukunya panjang.  Saat itu dan saat ini mungkin inilah namanya kebersamaan itu terlalu singkat untuk saling mencintai.   Aku pun tidak menyesal bahwa hubungan ini telah berakhir.  Kehidupan ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam penyesalan.  Penyesalan itu hanya membuang-buang waktu karena masa lalu tetaplah masa lalu tidak bisa diperbaiki. 

Ruth Havelar.  2002. Selamat Tinggal Indonesia. (Terjemah: Hersri).  Jakarta: Penerbit Utan Kayu.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROSPEK KELANJUTAN STUDI LULUSAN SMK JURUSAN TATA BUSANA

PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH

GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”