Anak Baik…


Waktu itu aku masih SD.  Sering sekali ngaji di rumah kepala sekolah.   Pak kepala sekolah dan istrinya sudah menganggap anak-anak lain juga saya seperti anak mereka sendiri.  Hari itu saya harus menginap dirumah Pak kepala sekolah untuk belajar murottal untuk lomba tingkat sekolah dasar.  Memang ritualnya begitu.  Setiap mendekati lomba saya menjadi anak yang diistimewakan untuk tidak mengikuti pelajaran, dan kegiatan sekolah lain.  Latihan dan latihan. 
Sebelum berangkat simbok mewanti-wanti agar kalau di rumah Pak guru membantu  menyapu dan pekerjaan yang bisa dilakukan.  Sore hari dengan malu dan rasa grogi saya diajak makan bersama di rumah Pak guru beserta keluarga.  Suasana makan malam sehabis sholat isya’  sangat khidmat dan terasa nyaman.  Agak berbeda dengan pemandangan di rumah.  Kalau di rumah, sering melihat sabit yang akan digunakan untuk memukul, dan benda-benda lain yang menggagalkan suasana makan. 

Setelah acara makan malam, seperti petuah simbok (simbah), aku membantu menyapu lantai yang selesai digunakan untuk acara makan.  Setelah itu, aku melihat cucian piring yang menumpuk.  Aku langsung teringat untuk pesan simbok untuk membantu sebisanya.  Tanpa pikir lagi, aku segera mencuci semua piring-piring dan alat memasak lain yang kotor.  Aku berusaha mencuci hingga benar-benar bersih.  Hingga suatu ketika mamakku wali murid di sekolah, Pak kepala menyampaikan bahwa saya membantu pekerjaan rumah di rumah Beliau.  Kalau kejadian ini kuingat lagi, aku berpikir bahwa aku pernah menjadi anak baik dan sopan yang pernah di sukai oleh Pak kepala sekolah dan istrinya.  Ya, aku sangat polos dan sopan waktu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROSPEK KELANJUTAN STUDI LULUSAN SMK JURUSAN TATA BUSANA

PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH

GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”