SELF-HELP GROUP DAN PERSOALAN SKRIPSI
Oleh:
Ruly Ningsih, S.
Pd.
Mahasiswa
Pascasarjana Bimbingan dan Konseling, UNY
Bingung,
ribet, susah, dosen sulit ditemui merupakan sederet keluhan yang sering kita
dengar pada mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa tingkat akhir identik pula
dengan persoalan penyelesaian skripsi.
Apa sih tugas akhir skripsi? Tugas akhir skripsi yaitu kewajiban
mahasiswa yang menempuh pendidikan strata-1/sarjana untuk menyusun proposal
penelitian, melakukan penelitian, dan melaporkan hasil penelitian dalam bentuk
tertulis dengan memenuhi kaidah-kaidah ilmiah.
Apabila sudah sampai di tahap pelaporan hasil penelitian, biasanya
mahasiswa melaksanakan sidang skripsi/ujian skripsi dihadapan 3 sampai dengan 4
dosen penguji. Untuk sampai ditahapan
sidang skripsi, memang banyak hal yang harus diselesaikan satu per satu. Namun, bukan berarti semuanya itu tidak bisa
dilakukan oleh mahasiswa. Seperti yang
pernah disampaikan oleh Dahlan Iskan, bahwa persoalan terkadang bukan terletak
di aspek kognitif “bisa atau tidak bisa” akan tetapi di aspek konatif “mau atau tidak mau”.
Penulis
membenarkan bahwa persoalan skripsi terkadang terletak pada dorongan
inferioritas yang dimiliki mahasiswa. Sebagian mahasiswa mungkin kurang memiliki
kepercayaan diri untuk segera
menyampaikan konsultasi mengenai topik maupun judul penelitian yang hendak
diambil. Takut judul tidak menarik,
takut topik penelitian tidak menarik,
takut kalau tidak bisa ketika ditanyai rancangan penelitian yang akan
dilakukan, dan ketakutan yang lain.
Ketakutan-ketakutan tersebut terkadang tidak beralasan karena terkadang
mahasiswa tidak melakukan sesuatu untuk mengurangi ketakutan. Memang benar bahwa kita pernah memiliki rasa
takut untuk menyampaikan ide penelitian maupun rancangan penelitian, akan
tetapi ketakutan tersebut akan segera menjadi keyakinan jika kita segera
menemukan referensi yang mendukung ide.
Referensi tersebut bisa diperoleh dari buku, maupun media bacaan yang
lain. Apabila kita sudah menemukan
keyakinan maka tidak ada lagi ketakutan untuk memulai konsultasi. Ketakutan untuk memulai konsultasi bisa saja menjadi awal dari penundaan
penyelesaian tugas akhir skripsi.
Ketakutan-ketakutan yang bergeloka dalam diri
kita, terkadang membuat kita lupa kalau sebenarnya kita memiliki teman yang
memiliki kegelisahan yang sama. Kita
dapat memanfaatkan kegelisahan yang sama tersebut untuk saling berbagi ilmu,
dan juga saling memberi dorongan. Dalam
mata kuliah mengenai dinamika kelompok, kita dapat menjumpai istilah self-help. Kelompok self-help
menyediakan dorongan psikologis bagi anggota-anggotanya serta memiliki suatu
fokus masalah untuk dipecahkan secara bersama-sama. Kelompok ini memungkinkan bagi setiap
anggota untuk memberi dan menerima bantuan dalam mengerjakan skripsi. Kelompok dapat dibentuk dengan anggota yang
homogen maupun heterogen dengan ukuran 10-50 orang, akan tetapi untuk mencapai
kelompok, penulis menyarankan ukuran kelompok dimodifikasi 3 sampai 5
orang. Hal yang juga penting dimiliki
kelompok ini yaitu antar anggota harus memberi dan menerima empati, dan tidak
saling menilai/ dapat menerima anggota secara apa adanya/unconditional positive regard.
Setelah terbentuk kelompok kemudian dapat menentukan salah satu anggota
untuk ditunjuk menjadi pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok tidak dibenarkan
terlalu memberikan kontrol di dalam kelompoknya. Pemimpin yang over control berbahaya
bagi pertumbuhan kelompok. Hal ini
karena akan menghambat kreativitas dan keaktifan dari setiap anggota.
Dorongan
akan “kesamaan nasib” telah
menjadikan Indonesia merdeka, maka saya yakin dorongan ini pula dapat membuat
mahasiswa memerdekakan diri dengan menyelesaikan tugas akhir skripsi secara
baik.
Self-help group
diusulkan penulis untuk mencari solusi alternatif mengingat berbagai hambatan
yang penulis rasakan ketika menyelesaikan skripsi. Teman-teman mungkin mengalami persoalan yang
sama juga. Bila skripsi selesai tepat
waktu maka kita bisa bersama-sama mengurangi angka drop-out di perguruan tinggi, hemat biaya kuliah, dan juga tidak
akan berkontribusi memperburuk akreditasi program studi. Ringkasnya, kerugian akhibat tidak
terselesaikan tugas akhir skripsi yaitu, kerugian secara personal maupun
kerugian secara institusional.
(Tidak Terbit disurat kabar, Maaf Terbit di Blog...hahaha)
Komentar
Posting Komentar