DILEMA GURU BK


          Ada sebuah pernyataan yang sungguh dilematis “kalau sudah terjun ke sekolah, Bimbingan dan Konseling itu beda dengan teori di kampus”.  Mungkin ini adalah pernyataan yang sering kita dengar dari sebagian fresh graduate lulusan bimbingan dan konseling yang kemudian bekerja di sekolah.  Dapat sangat dimengerti bagaimana kemudian pernyataan ini keluar dari seorang fresh graduate yang dengan segala keterbatasan otoritasnya di sekolah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah teori yang dibangun selama ini tercerabut dari realitas yang ada?  atau apakah masih terjadi miskonsepsi mengenai  ekspektasi tugas dan kinerja konselor sekolah/guru BK  oleh pihak-pihak di sekolah? 
Perkembangan profesi Bimbingan dan Konseling diawali di Amerika oleh Frank Parsons yang mendirikan Boston Vocational Bureau sebagai respon untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan pelatihan bagi anak muda yang ingin mencari kerja dan juga melatih para guru untuk dapat bertindak sebagai konselor.  Sampai akhirnya kemudian muncul bimbingan sosial juga dimunculkan sebagai respon terhadap persoalan mengembalikan anggota tentara ke masyarakat setelah perang dari pertempuran. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan bimbingan dan konseling bukanlah ilmu yang terpisah dengan kondisi realitas.  Malahan, bimbingan dan konseling yang dijalankan sesuai porsi dan posisinya dapat turut berkontribusi untuk memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia, khususnya persoalan di dunia pendidikan.   Jika saja memang dijumpai perbedaan-perbedaan hal ini tentu dapat memperkaya teori yang sudah ada.  Pertanyaannya reflektifnya kemudian adalah apakah kinerja yang dilakukan oleh guru BK sudah sesuai koridornya, sesuai dengan ekspektasi tugas dan kinerjanya? 
Perkembangan bimbingan dan konseling kian hari selayaknya semakin baik.  Guru BK semakin menyadari akan tugas dan tanggungjawabnya secara professional, tentu saja dengan didukung komponen sekolah yang lain, seperti kepala sekolah dan teman sejawat.  Kepala sekolah sudah selayaknya mengerti akan tugas utama seorang guru bimbingan dan konseling, sehingga dalam tugasnya ia tidak akan melimpahkan tugas yang dapat merusak citra guru BK.  Tugas yang dapat merusak citra guru BK diantaranya menghukum siswa, mengejar-ngejar siswa yang tidak berpakaian rapi, memotong rambut siswa yang tidak sesuai, memotong rok/celana siswa yang mana merupakan tugas utama seorang penjahit.  Akan lebih buruk jika kemudian pada akhirnya  guru BK kemudian memiliki persepsi bahwa tugasnya dilapangan seorang guru BK adalah demikian tadi.  Guru BK harus mengikuti arus yang ada, karena guru BK tidak mendapatkan tempat yang selayaknya.  Diakui atau tidak, sebagian dari kita memang pernah mengalami masa-masa sekolah ketika dihadapkan pada guru BK yang bertugas menjadi petugas kedisiplinan.  Siswa datang ke ruang BK karena dipanggil untuk diperiksa ukuran rok dan persoalan berpakaian yang lain.  Mengajar pelajaran, bukan, mendisiplinkan, juga bukan.  Apakah guru BK hanya makan gaji buta dan memiliki guru BK hanya untuk memenuhi syarat formalitas sekolah?
Bimbingan dan konseling di sekolah  yaitu sebagai salah satu komponen student support services.  Guru BK / konselor melakukan support terhadap perkembangan aspek pribadi-sosial, karir, dan akademik siswa melalui pengembangan program bimbingan (guidance curriculum), perencanaan  individual, pelayanan responsif, dan dukungan sistem.  Peran guru BK ditegaskan lagi dalam Permendikbud 81 Adikatakan bahwa dalam mengatasi persoalan siswa peran guru BK sangat dominan. Layanan terapiutik oleh guru bimbingan dan konseling/ konselor menjangkau aspek pelayanan dasar, pelayanan pengembangan, dan pelayanan peminatan.



(Tidak Terbit disurat kabar, Maaf Terbit di Blog...hahaha)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROSPEK KELANJUTAN STUDI LULUSAN SMK JURUSAN TATA BUSANA

PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH

GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”