GURU BK: OPTIMALKAN DUKUNGAN SISTEM

Oleh
Ruly Ningsih, S. Pd.
Alumni  Bimbingan dan Konseling, UNY
Sebagai lembaga paling strategis dalam melakukan rekayasa sosial, pendidikan memiliki banyak tantangan dan pekerjaan rumah.  Guru-guru kita sebagai ekseskutor lapangan memainkan peranan yang signifikan dalam menentukan sejauh mana keberhasilan pendidikan.  Pendidikan dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan pola pikir, emosi, dan tindakan siswa ke arah yang lebih baik.  Tentu bukan pekerjaan yang mudah bagi guru-guru kita, akan tetapi bukan berarti pekerjaan ini tidak dapat dilakukan apalagi bagi seorang guru BK.  Guru BK idealnya memang memiliki kemampuan dan otoritas yang memungkinkan baginya untuk merancang berbagai teknik intervensi dibandingkan rakyat biasa.  Tentu saja, hal ini membutuhkan kesepahaman mengenai tugas dan ekspektasi kinerja konselor/Guru BK oleh pihak sekolah sehingga kinerja guru BK tidak hanya menjadi satpam sekolah.  Menjadi satpam sekolah yang dimaksud yaitu mengejar-ngejar siswa masuk kelas, menghukum yang tidak pakai sepatu sesuai aturan, dan tugas lain yang irrelevan dengan tugas guru BK.
Hari ini tugas guru BK semakin kompleks dan krusial.  Guru BK sudah selayaknya khawatir dan prihatin saat mendengar siswa SMP dan SMA/K di beberapa tempat di daerah kita terlibat kenakalan remaja. Perilaku kenakalan remaja yang terjadi dan berkembang diantaranya:  meneguk miras, pil koplo, merokok, perkelahian, pencurian,  dan seks bebas.  Siklus perilaku remaja berkembang dari perilaku merokok ke perilaku yang lebih kompleks.  Setelah remaja merokok, kemudian meneguk miras yang kadang dibarengi dengan pil koplo, pencurian, perkelahian lalu melakukan seks bebas.  Perilaku ini mirip seperti pemaparan salah satu petugas utusan BNN dalam seminar bahwa merokok selangkah menuju miras, miras selangkah menuju narkoba, dan narkoba selangkah menuju seks bebas.  Apakah ini hasil pendidikan yang kita harapkan?  Jangan lupa bahwa anak-anak yang terlibat kenakalan remaja kebanyakan juga duduk dibangku sekolah yang mana seharusnya ia menerima pengetahuan dan nilai dari guru-guru mereka (transfer of knowledge dan transfer of value).
Perilaku kenakalan remaja merupakan manifestasi dari beberapa kondisi psikologis yang dihadapi remaja.  Remaja yang masih berada pada tahap mencari identitas harus berlari ke sana sini untuk menemukan model / significant others yang cocok untuk dijadikan panutan.  Tokoh politik yang menggembar-gemborkan perubahan bahkan terlibat korupsi.  Artis idola mereka terjerumus narkoba, seks bebas, dan perilaku menyimpang lainnya.  Teman sepermainan mereka bukan lagi mengajak basket dan bermain sepeda akan tetapi menawarkan rokok, miras, tawuran, maupun memamerkan perilaku seks yang pernah dilakukannya. Internet bukan lagi hanya memberikan bahan pelajaran tetapi juga menawarkan video tidak senonoh.  
Menghadapi tantangan sosial tersebut, sudah saatnya bagi guru BK untuk membangun layanan yang terintegrasi dengan pihak lain.  Banyak fenomena-fenomena sosial melibatkan remaja yang perlu kita dalami dan disosialisasikan berkolaborasi lembaga terkait agar remaja dapat terhindar dari tindakan serupa.  Guru bimbingan dan konseling sebaiknya mampu menginisiasi suatu program untuk memfasilitasi perkembangan yang sehat bagi siswa.  Guru bimbingan dan konseling tidak dapat mengatasi persoalan sistemik secara mandiri tetapi  bekerjasama dengan kepolisian, dinas kesehatan, orangtua, kelompok masyarakat, maupun LSM terkait.  Pemilihan pihak yang diajak berkolaborasi tergantung pada persoalan yang sedang digarap. Melaksanakan layanan yang bersinergi dengan isu sosial dan pihak lain memang pekerjaan yang menantang. Apabila hal ini dapat dilakukan oleh guru BK, berarti guru BK secara langsung maupun tidak langsung telah berusaha melakukan intervensi pada lapisan mesosistem. 
Kemauan yang kuat untuk merancang berbagai teknik intervensi merupakan kunci pokok keberhasilan layanan preventif maupun kuratif di sekolah.  Hal ini membutuhkan kepekaan dan kepedulian sosial yang  tinggi dan sangat perlu dilakukan mengingat profesi bimbingan dan konseling merupakan helping service.  Pokok pikiran yang harus kita sadari bersama yaitu siswa-siswa kita hidup dalam lingkungan sosial yang secara langsung maupun tidak langsung turut berkontribusi membentuk pola pikir dan pola perilaku siswa sehingga intervensipun sebaiknya dilakukan secara terintegrasi dengan pihak lain.

(Tidak terbit disurat kabar, terbitlah di blog..hahahah)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROSPEK KELANJUTAN STUDI LULUSAN SMK JURUSAN TATA BUSANA

PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH

GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”