Sudahkah anak-anak tahu ingin menjadi apa mereka kelak?
Sering kita mendengar bahwa sebagian
anak-anak kita tidak memiliki mimpi akan kemana dan menjadi apa. Wawancara terhadap sebagian anak menunjukkan
kecenderungan bahwa anak-anak yang masuk kategori pandai sudah menentukan
tempat sekolah selanjutnya bahkan kemudian bermimpi untuk memasuki universitas
terkemuka. Sementara, anak-anak yang lain belum memiliki mimpi. Gawatnya lagi, ia sempat berpikir bahwa
pilihan studi selanjutnya akan memilih berdasarkan pilihan teman-temannya. Padahal mungkin saja ia memiliki mimpi yang
tidak sama dengan teman-temannya. Hasil
wawancara singkat ini mungkin hasilnya akan berbeda jika dilakukan di daerah
lain sehingga penulis tidak bermaksud menggeneralisasikan hasil ini untuk
lingkup yang lebih luas. Kenyataan ini
hanya akan menjadi bahan refleksi bagi orangtua, guru BK, guru SD, dan
guru-guru lain pada umumnya. Apakah kita
sudah memfasilitasi anak-anak kita untuk membangun jembatan mimpi bagi
anak-anak kita?
Ini
adalah terjemah lirik dari salah satu soundtrack drama korea “Dream High”
tentang gambaran bagaimana orang-orang mendapatkan mimpi mereka.
Beberapa orang
menghargai mimpi mereka
Beberapa orang
berbagi mimpi mereka
Lainya mengejar
impian dan kenyataan
Beberapa melupakan
mimpi mereka
Beberapa merebut
impian orang lain
Yang lain tidak punya
impian sama sekali
Ada begitu banyak
orang di dunia dengan kepribadian yang sangat banyak
Setiap malam aku
bermimpi di atas panggung , penonton berteriak,
lalu aku membuka mata
dan kembali ke kenyataan gelap
Tapi aku tidak bisa
duduk diam
Untuk mengisi jiwa
yang kosong
Aku hanya bisa terus
berlatih
Menghapus air mata
Sementara kita
bekerja keras, kita belajar arti hidup
Jangan putus asa,
tekun menjadi lebih kuat
Cinta, teman,
harapan, dan mimpi
Biarkan aku
mempersiapkan diri dengan baik
Dan memungkinkan
mereka untuk memiliki kekuatan untuk berdiri lagi
Memang
pada mulanya aku pun tidak pandai bermimpi.
Menurutku bermimpi hanya akan membuat kecewa jika tidak dapat mencapainya. Entah aku lupa aliran apa namanya, aku
menganut filsafat ini untuk beberapa lama “tujuan itu ada seiring
perjalanan”. Saat itu aku tidak membuat
rencana-rencana soal apa didepan, aku berfokus mengerjakan apa yang ku kerjakan
saat itu, aku berusaha melakukan yang terbaik terhadap tugas-tugasku hari itu
dengan keyakinan bahwa tujuan itu ada seiring perjalanan.
Aku
tidak terlalu peduli dengan training motivasi-motivasi untuk membangun mimpi,
bagiku saat itu “hidup itu adalah hari ini”, mungkin juga ini masih berlaku
untukku hari ini. Cuma, entah mengapa
sekarang aku benar-benar prihatin saat melihat adik-adik kita ketika ditanya
“Cita-citamu pengen dadi opo?” jawabanne
adalah “mboh mbak aku rung ngerti…” .
aku mulai berkeyakinan bahwa mereka harus membangun mimpi mereka
sehingga hidup mereka juga lebih terarah.
Aku tidak yakin mereka bisa hidup dengan baik tanpa mengetahui mimpi
mereka. Mungkin aku dulu bisa hidup
dengan baik tanpa sejuta mimpi, tapi aku merasa Tuhan selalu mengabulkan tujuan
jangka pendekku, dan kemudian aku baru berpikir apa di depan. Aku tidak yakin hal ini bisa dilakukan oleh
adik-adik kita jaman sekarang.
Zaman
telah bergeser, ketika aku duduk di bangku SD belum ada orang yang menawarkan
selinting rokok tetapi sekarang seorang adik mengatakan padaku bahwa ia
ditawari rokok oleh om mereka. Bukankah
ini juga tantangan hidup jika kita tidak memiliki mimpi. Jika saja seorang adik itu memiliki mimpi
menjadi polisi, tentu kita bisa mengatakan bahwa kalau untuk menjadi polisi,
paru-paru kita harus normal. Kalau kita
sampai merokok, kita akan sulit untuk menjadi polisi, karena ketika kita
merokok, paru-paru kita menjadi terkikis dan memiliki lobang. Zaman saya dulu, belum difasilitasi televisi
oleh orang tua sehingga saya tidak mengenal menonton sinetron, kartun
perkelahian, dan iklan-iklan yang memamerkan gaya hidup hedonis. Aku mulai difasilitasi menonton televisi baru
ketika menginjak kelas 2 SMP, bagaimana dengan adik-adik sekarang? Saya pernah mengamati adik-adik yang memanfaatkan
internet untuk bermain game online, serta menonton video-video yang tidak
mendidik. Zaman telah berubah !
ku bermimpi negeri yang permai
sawah membentang, hutan permai, dan laut memanjang,
kulihat anak-anak bermain layangan
kulihat abu membaca buku, menggembala domba
sorak sorai petani berhamburan merayakan panen tiba
ya, hidup dengan cara mereka
guru-guru tempat berguru
pak haji tempat mengaji
pak lurah tempat keluh kesah
bupati tempat mengadu diri
pagi menjelang, mimpiku hilang
anak desa menghisap ganja
anak kota pake narkoba
kelurahan kumpulan gila wanita
kenegaraan kumpulan gila harta
negeriku merana
Wonosari ,7 April
2016
Komentar
Posting Komentar