Diary Menyusun Skripsi "Penelitian Surveiku"
PENELITIAN KUANTITATIF DG JENIS
SURVEI
Ilmu
ini saya dapat dari mengerjakan skripsi selama 6 bulan…hehe… sejak semester 7
(11 Oktober 2014) s.d. semester 8 (29 April 2015). 29 April 2015 saya mempertanggungjawabkan
tulisan saya di depan 3 dewan penguji.
Ketua Penguji : Dr. Suwarjo, M. Si. , Sekretaris Penguji : Sugiyatno, M.
Pd., dan Penguji utama Dr. Edi Purwanta, M. Pd. yang sekarang sudah Prof…hhehe Ilmu ini saya serap dari setiap
bimbingan dengan Dr. Suwarjo, M. Si.
yang membimbing saya dalam menyelesaikan tugas akhir skripsi. Berkat bimbingan beliau saya merasa bahwa
saya menguasai apa yang saya tulis.
Mungkin tulisan ini tidak sempurna karena keterbatasan saya dalam mengingat
hal-hal apa saja yang sudah beliau sampaikan.
Beberapa hal lain pada tulisan ini, juga berdasarkan masukan penguji
pada saat sidang skripsi.
Karena
kemudahan-kemudahan selama mengerjakan skripsi dan ilmu yang indah ini, saya
merasa memiliki kewajiban untuk menulis dan menyampaikan pada teman-teman
juga….heee.. Penjelasan yang akan saya paparkan lebih seperti cerita dalam
mengerjakan skripsi, sehingga diharapkan teman-teman dapat lebih mudah untuk
memahami. Cerita ini sangat cocok untuk
dibaca bagi temen-teman yang hendak memulai mengerjakan penelitian dengan jenis
survey. Bacaan ini dapat digunakan
sebagai modal awal sebelum bimbingan ketemu dosen. Nanti kalau ditanya garis besar penelitian
yang akan dilakukan, maka cerita ini sedikit banyak harapannya membantu
teman-teman. bimbingan pertama itu juga
seperti “Hello effect” alias kesempatan agar kesan pertama sangat
meyakinkan. Selain kesan yang
meyakinkan, harapan saya agar kesan pertama ini diikuti oleh semangat belajar
yang tidak mengenal puas, semangat hunting bukuuu …hehehe bila menghadapi
kesulitan insyaalloh saya terbuka untuk sharing melalui facebook di @ruly ningsih atau email saya di rulyningsih@gmail.com. Sebenarnya secara garis besar sudah secara
gamblang saya ceritakan…hehe sebagai tambahan, kalau temen-temen hendak
menyusun proposal penelitian yang kalau di tempat saya kemarin (FIP UNY)
proposal itu bab 1-3, jangan lupa untuk menggunakan bahasa2 proposal, seperti
kata-kata akan…. , sementara jika itu sudah selesai penelitian maka revisi lah
kata-kata akan menjadi bahasa laporan “ dilakukan di …., hasilnya….
PART I
Hal
yang paling penting dalam penelitian yaitu peneliti harus tau “apa yang menjadi
objek penelitian/apa yang mau diteliti”.
Hal yang perlu diketahui juga selain istilah “objek” yaitu ada yang
namanya” subjek” penelitian.
Istilah
subjek penelitian menjawab pertanyaan “ Siapa yang mau diteliti?”
Istilah
objek penelitian menjawab pertanyaan “Apanya dari subjek yang mau diteliti?”
Contoh
:
1. Subjek penelitian : Siswa SMK, objek yang mau diteliti perilaku kedisiplinan
2. Subjek
penelitian : Anak Broken Home, objek yang
mau diteliti resiliensinya
A. MENENTUKAN
VARIABEL PENELITIAN
Sesuatu
dapat dikatakan variabel jika ia memiliki variasi. Contoh variabel: Tingkat Kedisiplinan.
Mengapa
tingkat kedisiplinan dapat dikatakan
varibel? Karena tingkat kedisiplinan memiliki variasi, variasinya yaitu tinggi
(disiplin) dan rendah (banyak melanggar).
Berbicara
soal menentukan variabel sebaiknya ketika menentukan variabel harus berdasarkan pada fenomena apa yang diamati dilapangan,
bukan karena “mengelus jenggot” lalu keluar variabel…hehe. Pentingnya judul/variabel berdasarkan
fenomena yaitu akan mempermudah peneliti dalam menyusun latar belakang masalah.
Ada
variabel-variabel tertentu yang membutuhkan objek. Variabel tersebut tidak bisa berdiri
sendiri. Misalnya : persepsi, sikap
Fenomena
yang dimaksud yaitu fenomena menunjukkan gejala dari suatu variabel.
Contoh
fenomena: Disuatu sekolah sering
dijumpai siswa telat, siswa tidak mengerjakan tugas , siswa membolos pada saat
kegiatan pembelajaran.
Fenomena
tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa tidak taat/melanggar aturan yang
ditetapkan di sekolah. Dampak dari
ketidakdisiplinan tentu saja kegiatan belajar mengajar menjadi terganggu.
Variabel
yang mungkin diangkat dalam penelitian yaitu tingkat kedisiplinan.
B.
MENYUSUN LATAR BELAKANG MASALAH
Beberapa
hal-hal yang perlu diwaspadai dalam penyusunan latar belakang masalah:
1. Peneliti
terlalu banyak menulis pendapat, yang sebaiknya pendapat itu ditulis di bab2
atau pembahasan hasil penelitian.
2. Peneliti
menulis penelitian-penelitian orang lain dengan maksud menguatkan topik
penelitian yang diangkat tetapi penelitian orang lain itu tidak relevan dengan
topik penelitian peneliti.
3. Peneliti
terjebak membuat fitnah2, misalnya: perilaku tidak disiplin disebabkan karena
persepsi siswa negatif terhadap kedisiplinan.
Contoh lagi : banyak siswa yang sering melanggar kedisiplinan sekolah
(tanpa menyebutkan sumber datanya dari mana).
4. Isu
yang diangkat terlalu global, sementara hanya akan meneliti hal yang kecil
(lingkup penelitian kecil).
5. Persoalan
ditemui di sekolah A tetapi yang diteliti di sekolah B, maka peneliti harus
memiliki argumen yang logis.
6. Latar
belakang terlalu ekstrim sementara penelitian yang dilakukan hasilnya belum
tentu ekstrim.
7. Dalam
menulis latar belakang, sebaiknya peneliti memaparkan data/fenomena yang ada
yang membuat peneliti memunculkan pertanyaan-pertanyaan dalam rumusan
masalah. Apabila peneliti akan meneliti
pengaruh x thd y, atau hubungan x dengan Y maka latar belakang harus sudah
mengaitkan gejala perilaku x dengan gejala perilaku variabel Y.
Contoh
:
Judul
Penelitian : Hubungan Kontrol diri dengan Tingkat Kedisiplinan
Latar
belakang : siswa pergi ke kantin pada saat pembelajaran berlangsung. Sebagian siswa tersebut tidak tahan dengan
dorongan lapar sehingga ia tidak dapat menunggu sampai jam istirahat untuk
pergi ke kantin.
Gejala
perilaku kontrol diri rendah : Siswa tidak tahan dengan rasa lapar sehingga
tidak dapat menunggu sampai jam istirahat untuk pergi ke kantin.
Gejala
perilaku melanggar kedisiplinan : Siswa pergi ke kantin pada saat kegiatan
pembelajaran.
Apabila
latar belakang sudah menunjukkan keterkaitan 2 variabel, maka kita layak untuk
bertanya mengenai hubungan kedua variabel.
“kalo gak tahan lapar tidak dapat menunggu sampai jam istirahat (X) ,
kok langsung pergi ke kantin (Y) ” kalo begitu ada gak sih hubungan X dengan Y/
bagaimana sih hubungan X dengan Y. Dari
latar belakang yang sudah dipaparkan, kalau peneliti sudah ada hubungan, maka
rumusan masalah tidak “Apakah ada hubungan X dengan Y” tetapi “bagaimana hubungan X dengan Y”.
Pertanyaan
apa hanya menjawab “ada hubungan /tidak ada hubungan” sedangkan pertanyaan
bagaimana memiliki jawaban yang lebih kompleks “ arah hubungan positif atau
negatif, koefisien korelasi/hubungannya berapa, hubungannya kuat atau lemah”
C. MENULIS IDENTIFIKASI MASALAH
Identifikasi masalah berisi masalah-masalah
yang telah dikemukakan pada latarbelakang.
“Identifikasi berisi masalah bukan hanya premis”. Dosen saya mengatakan bahwa terkadang
identifikasi masalah hanya berisi premis, misalnya: “besi yang dipanaskan akan
memuai” tidak menunjukkan masalah.
Contoh penulisan identifikasi
masalah yang benar:
Sebagian siswa melanggar
kedisiplinan sekolah, sehingga iklim belajar di sekolah tidak kondusif.
Peneliti bisa menulis identifikasi
masalah dulu baru latar belakang, maupun menulis latar belakang dulu baru
mengidentifikasi masalah yang termuat pada latar belakang.
Apabila peneliti menulis
identifikasi masalah dulu, maka tiap-tiap identifikasi masalah dapat dijadikan
pokok pikiran dari setiap paragraf di latar belakang.
D. MENULIS BATASAN MASALAH
Kesalahan yang sering dilakukan
peneliti dalam menulis batasan masalah yaitu menulis kembali judul
penelitian. Penulisan batasan masalah
yang benar yaitu memindai persoalan-persoalan yang hendak diteliti pada
identifikasi masalah. Penelitian tidak
akan meneliti keseluruhan masalah yang ada di identifikasi masalah, melainkan
hanya meneliti beberapa hal saja (masalah yang telah dibatasi dan ditulis pada
batasan masalah). Bisa saja peneliti
menulis 7 masalah pada identifikasi masalah, melainkan peneliti hanya membatasi
penelitian pada 3 masalah saja.
E. MENULIS RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah biasanya ditulis
dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya : Bagimana
hubungan X (…………..) dengan Y (……)?, Bagaimana tingkat kedisiplinan di SMK ……. ?
F. MENULIS TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ditulis sejalan dengan
rumusan masalah.
Misalnya :
1.
Rumusan Masalah : Bagimana hubungan X
(…………..) dengan Y (……)?,
Tujuan
Penelitian: Untuk mengetahui hubungan X dengan Y.
2.
Rumusan Masalah : Bagaimana tingkat
kedisiplinan di SMK ……. ?
Tujuan
penelitian : Untuk mengetahui tingkat kedisiplinan di SMK …
G. MENULIS MANFAAT PENELITIAN
Peneliti menuliskan pihak-pihak
yang dapat mengambil manfaat dari penelitian yang dilakukan. Manfaat penelitian baik secara teoritis
maupun praktis biasanya dituliskan dalam penelitian skripsi.
PART
II
Bagian ke dua pada skripsi yaitu
menulis kajian teoritik dari suatu variabel.
Kesalahan yang sering dijumpai
pada penulisan bab 2 yaitu
1. Peneliti
tidak menggali teori dasar yang melahirkan variabel tersebut. Sebelum menulis kajian teori, sebaiknya
peneliti mencari teori dasar atau tokoh dasar yang melahirkan variabel tersebut
sehingga teori lebih mapan. Teori yang
tidak mapan akan membingungkan peneliti dalam membuat instrument. Dalam penelitian kuantitatif, teori sangat
penting untuk melandasi pembuatan instrumen yang valid.
2. Peneliti
hanya menulis kembali “buku sumber” tanpa mengkaji teori secara
komprehensif. Cara mengkaji teori yang
baik yaitu mendialogkan teori si A dengan teori si B.
Contoh:
a menyatakan bahwa persepsi yaitu ………… .
hal ini sejalan / berbeda dengan pendapat B yang menyatakan bahwa
persepsi yaitu…..
Berdasarkan
pendapat yang telah dikemukakan maka peneliti menyimpulkan bahwa persepsi yaitu
………………………
Kesalahan
yang sering terjadi pada penulisan kajian teori yaitu peneliti tidak memahami
kaidah penulisan kalimat S-P_O_K.
Contoh
kalimat yang salah : menurut pendapat a …………………..
Lebih
baik kalimat diubah menjadi A berpendapat bahwa persepsi ……
3. Peneliti
memaparkan banyak pendapat sementara pendapat yang dijadikan acuan hanya 1
pendapat. Hal ini sebaiknya dihindari
karena hanya memboroskan kertas.
4. Peneliti
hanya mengambil sebagian isi skripsi-skripsi orang lain tanpa mencantumkan nama
pemilik skripsi. Peneliti mengambil
daftar pustaka orang lain tanpa menelusuri bukunya langsung. Ini adalah kejahatan intelektual gaes… .
Karya ilmiah yang seharusnya ilmiah tetapi hanya melahirkan kaum-kaum
penjiplak. Lagipula, jika peneliti hanya
melihat skripsi orang lain untuk dipindahkan di skripsinya sendiri, kadar
ilmiah skripsi akan berkurang. Belum
lagi jika penguji skripsi adalah Doktor yang telah mengerti berbagai sumber
buku acuan, maka ujian akan terasa 5 jam tak selesai. .
5. Selain
mengkaji mengenai variabel penelitian, peneliti harus mengkaji secara teoritik
karakteristik subjek penelitian.
Misalnya : Persepsi terhadap kedisiplinan di SMK X, maka peneliti
sebaiknya mengkaji perkembangan
kognitif, biologis, maupun secara sosio-emosional siswa SMK untuk melihat
karakteristik persepsi siswa SMK dilihat dari tahap perkembangannya.
6. Penulisan
kerangka berpikir sebaiknya berisi logika penelitian dilihat dari sudut pandang
teori. Dosen saya selalu mengatakan
bahwa menulis kerangka pikir di ibaratkan orang yang sakit dengan obat.
Obat
ini mengandung paracetamol, salbutamol.
Paracetamol mengobati sakit panasnya, sementara salbutamol mengobati
sakit asmanya. Maka dapat disimpulkan
jika anda meminum obat ini anda akan sembuh.
Bagian akhir kerangka pikir sebaiknya ditambahkan visualisasi
keterkaitan antar variabel, atau visualisasi mengenai logika penelitian.
PART
III
Bab III skripsi biasanya berisis
metode penelitian. Saya mengingat betul
pertanyaan dosen pembimbing “Bab III itu berbicara metode apa metodologi ?”. Metode yaitu bagaimana penelitian itu akan
dilakukan / hal-hal yang akan dilakukan peneliti dalam rangka mencapai tujuan
penelitian. Hal ini berimplikasi bahwa
pemaparan mengenai cara-cara menggali data yang akan dilakukan tidak harus
mengutip berbagai pendapat.
Hal ini bukan berarti peneliti tidak
memerlukan sumber buku dalam menulis bab III (Metode Penelitian), akan tetapi
buku sumber bacaan perlu kita serap ilmunya.
Setelah memahami ilmu/kaidah penelitian, kita tuliskan pendekatan dan
jenis apa yang cocok untuk menggali data pada penelitian kita.
A.PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN
Kembali keteori dasar bahwa
pendekatan penelitian ada 3 yaitu kuantitatif, kualitatif, dan mixmethod. Pendekatan yang sering saya jumpai digunakan
untuk menggali data yaitu kuantitatif dan kualitatif. Kadang peneliti juga
kebingungan untuk membedakan jenis dan pendekatan penelitian.
Untuk menulis sub bab pendekatan
dan jenis penelitian, kita hanya perlu menulis “Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif.” Kita tidak
perlu menambahkan “menurut pendapat…….penelitian kuantitatif yaitu……”. Sekali lagi saya katakan bahwa kita berbicara
soal metode atau cara apa yang akan dilakukan pada penelitian ini, bukan lagi
membicarakan ilmu yang mempelajari berbagai metode penelitian
(metodologi). Oleh karena itu, kemukakan
apa yang akan dilakukan dengan bahasa yang lugas dan jelas.
Penelitian dengan pendekatan kuantitatif ada
berbagai macam jenis. Sebagai contoh,
kalau penelitian saya dilihat dari cara mengumpulkan datanya maka jenis penelitiannya survey. Saya tidak memberikan tindakan kepada
sejumlah subjek, melainkan saya membagikan skala yang harus di isi oleh subjek.
Penelitian saya terdiri dari 3
variabel dan saya menghubungkan ketiga variabel. Maka dilihat dari keterkaitan variabelnya,
penelitian saya jenisnya adalah korelasi.
Sementara dilihat dari munculnya variabel, penelitian saya termasuk
jenis expose facto. Penelitian expose
facto, berarti perilaku itu sudah muncul ketika penelitian dilakukan. Sebelum melakukan penelitian, saya mengamati
dan mewawancarai sejumlah siswa. hasil
pengamatan dan wawancara tersebut sekaligus merupakan bahan untuk membuat
pemaparan latar belakang masalah. Dari
hasil tersebut, saya menyimpulkan bahwa perilaku-perilaku siswa yang
ditampilkan siswa merupakan gejala dari variabel X1, X2 dengan Y.
B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Ketika memaparkan tempat dan waktu
penelitian, peneliti langsung saja ke pokoknya tidak perlu menjelaskan secara
teoritik apa yang disebut tempat penelitian (setting penelitian menurut…….). Peneliti langsung saja menuliskan “penelitian
ini dilakukan di ……………… .yang beralamat di …….. desa kecamatan kabupaten….
(ditulis lengkap). Peneliti memilih sekolah/tempat ini karena………………… ‘’. Pemilihan lokasi penelitian harus disertai
alasan yang masuk akal. Alasan yang saya
gunakan yaitu karena di sekolah …………… ditemukan fenomena yang melatarbelakangi
penelitian.
Demikian pula pada penulisan waktu
penelitian, langsung saja ditulis penelitian ini dilakukan sejak ……….. sampai…
. penulisan tanggal, bulan, serta tahunnya harus jelas. Kalau skripsi saya, waktu observasi dan
wawancara awal sudah saya masukkan sebagai waktu penelitian. Jadi skripsi/penelitian saya berlangsung
selama 6 bulan. Alasan logisnya kenapa
sejak observasi dan wawancara awal sudah masuk penelitian, karena sejak saya
menggali fenomena merupakan data awal yang saya kembangkan untuk kemudian
diteliti lebih lanjut. Data awal
kemudian dikaji secara teori, kemudian menyusun instrument, menyebar instrumen,
sampai dengan membahas hasil penelitian.
Jadi menyusun skripsi bukan hal yang instan.
C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah
generalisasi dari hasil penelitian anda.
Penulisan sub bab populasi penelitian yang sering dijumpai yaitu “Populasi menurut pendapat b yaitu……” .
Contoh di atas bukanlah metode penelitian melainkan metodologi
penelitian. Metodologi membicarakan ilmu
yang mempelajari berbagai metode penelitian.
Penulisan metode penelitian harus
lugas dan jelas.
Contoh:
“populasi penelitian ini yaitu
siswa SMK…… dengan jumlah….siswa.
Rincian populasi seperti tabel dibawah ini. ….. “ .
SAMPEL PENELITIAN
Sampel yaitu wakil dari
populasi. sampel harus representative
(dapat mewakili populasi. Yang perlu
diketahui dalam penulisan sampel penelitian yaitu
1. Mengetahui
ukuran sampel
Untuk
mengetahui ukuran sampel kita bisa membaca buku Sugiyono ataupun Puguh Suharso
“Model Analisis Kuantitatif”. Saya
sendiri memilih rumus yang dikemukakan oleh Slovin untuk menentukan ukuran
sampel.
2. Mengetahui
teknik pengambilan sampel dan alasan logisnya
-
Teknik dasar yang perlu dipahami yaitu
sampel sebaiknya acak/random.
Pengambilan sampel tidak boleh mengandung unsur subjektivitas dari semua
pihak, termasuk peneliti. Maka bisanya
penelitian-penelitian menggunakan teknik random sampling.
-
Teknik pengambilan sampel ini juga harus
mempertimbangkan kajian secara teoritik dari suatu variabel. Misalnya penelitian variabel kontrol diri di
SMK, kontrol diri secara teori berkembang sesuai usia. Oleh sebab itu, pengambilan sampel sebaiknya
menggunakan stratified. Alasan mengapa harus berstrata karena kemampuan kontrol
diri siswa smk kelas 1, 2, dan 3 akan berbeda karena tergantung oleh usia.
-
Pengambilan sampel setiap tingkatan
(kelas 1,2,3) harus proporsional, misalnya: kalau kelas 1 yang diambil
sampelnya 25% maka kelas 2 juga harus 25%, begitu pula kelas 3.
D. VARIABEL PENELITIAN
Penulisan variabel penelitian
sebaiknya “Variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu…. , ………….. .” peneliti tidak harus menuliskan “variabel
menurut pendapat………. “.
E. DEFINISI OPERASIONAL
Kajian teori dari setiap variabel
pada bab III harus melahirkan definisi operasional yang akan melandasi
pembuatan instrument penelitian. Definisi
operasional harus mengandung aspek-aspek yang akan digunakan untuk mengukur
suatu variabel.
F. METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data yaitu cara
yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Kalau penelitian survey, metode penelitiannya
yaitu dengan membagikan skala ke sejumlah responden. Kemudian peneliti menjelaskan skala apa saja
yang digunakan, misalnya: skala perilaku agresi
G. INSTRUMEN PENELITIAN
Instrument penelitian menjelaskan
tentang skala apa saja yang digunakan, cara menjawab/memberikan respon,
kemudian tidak lupa juga kita mencantumkan kisi-kisi instrumen. Contoh pemaparannya misalnya:
Penelitian ini menggunakan 2
instrumen yaitu
1. skala
self-control
skala
ini disusun berdasarkan aspek………………….
. Tanggapan subjek terdiri dari 4
alternatif jawaban yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak
setuju. Skor untuk item favourable yaitu
ss (4), s (3), ts (2), dan sts (1). Skor untuk item unfavourable yaitu…………..
. Berikut kisi-kisi skala
self-control. Lalu untuk mempermudah
penulisan kita dapat menggunakan tabel.
|
Aspek
|
Indikator
|
Deskriptor
|
Item
|
|
|
Favourable
|
Unfavourable
|
|||
|
Emosi
|
Dapat
enyadari emosi
|
-
Mengenali perubahan fisiologis
|
5,6
|
7,
8
|
Setelah
mengkaji teori, menentukan definisi operasional, maka akan mudah untuk membuat
kisi-kisi. Kunci utama yaitu teori yang digunakan harus sudah mapan. Jika terdapat keraguan dlam menarik suatu
definisi operasional, sebaiknya diskusikan teori maupun definisi operasional
tersebut dengan dosen pembimbing.
Definisi operasional ini akan sangat menentukan bagimana bentuk dari
kisi-kisi instrument yang kita kembangkan.
Yang
perlu diperhatikan pada saat menulis kisi-kisi:
1. Indikator
yaitu merinci aspek. Satu aspek bisa
lebih dari satu indikator. Indikator
yaitu penanda akan sesuatu. Indikator
itu dituliskan dengan bahasa yang menunjukkan kemampuan. Biasanya digunakan kata2 dapat, mampu, bisa,
dan yang kata lain yang semakna.
2. Deskriptor
yaitu merinci dari indikator. Setiap
indikator bisa dibuat beberapa deskriptor.
Deskriptor ini nanti yang akan akan kemudian dikembangkan menjadi
pernyataan di skala.
3. Favourable
dan Unfavourable
Suatu pernyataan itu
dikatakan tidak favourable apabila tidak mendukung teori. Suatu pernyataan bisa menjadi favourable dan
juga bisa menjadi unfavourable tergantung pada variabel yang angkat dalam
penelitian.
Misalnya:
Variabel :Tingkat
pelanggaran disiplin di sma x
Pernyataan 1:saya
sering berangkat terlambat
Item ini favourable (mendukung teori) karena
variabelnya tingkat pelanggaran
Contoh pernyataan ke 2:
saya selalu sampai di sekolah sebelum bel masuk
Item ini tidak unfavourable (tidak mendukung teori)
karena variabel penelitiannya tingkat pelanggaran. Lain halnya jika variabel
penelitiannya adalah tingkat kedisiplinan di smp x. Pernyataan “saya selalu berangkat ke sekolah
sebelum bel masuk” akan menjadi pernyataan yang favourable (mendukung teori).
Oh iya, kenapa saya
sering menyebut skala bukan angket.
Karena angket dengan
skala itu berbeda. Angket itu jawabannya
factual dan tidak membutuhkan penafsiran psikologis. Misalnya: nama, umur, usia, jenis kelamin,
berapa jumlah saudara kandung, dan lain-lain ……..
Sementara, skala yaitu
ketika menjawab kita membutuhkan penafsiran psikologis. Misalnya: Saya merasa malu saat tidak
mengerjakan PR. Untuk menjawab kalimat
ini kita membutuhkan penafsiran psikologis.
H. UJICOBA INSTRUMEN
Kalau penelitian saya kemarin,
ujicoba instrumen dilakukan untuk mengetahui reliabilitas. Reliabilitas yaitu keajegan hasil dari suatu
instrument. Sekarang dan besok digunakan
untuk mengukur hasilnya tidak akan timpang terlalu jauh, ajeg. Uji reliablitas menggunakan alpha cronbach
dengan bantuan spss. Suatu skala dikatakan reliable jika angkanya mendekati
koefisien 1,00. Biasanya jika koefisien
reliabilitas sudah diatas 0,7 maka dikatakan reliable.
Contoh hasil uji reliabilitas
Pada sub bab ujicoba instrument
saya juga memaparkan validitas yang saya gunakan. Untuk menentukan validitas, saya tidak
menggunakan ujicoba sebagai dasarnya, akan tetapi saya mendasarka pada
penilaian expert. Uji validitas
instrument saya menggunakan expert judgment yang saya peroleh selama proses
bimbingan. Saya mengakui bahwa pada saat
mengembangkan definisi operasional ke kisi-kisi, kemudian kisi-kisi ke
pernyataan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bahkan kami (saya, dan teman) dengan telaten
mendiskusikan setiap aspek ke indikator, indikator ke deskriptor, deskriptor ke
pernyataan dengan pembimbing skripsi kami.
Saya tidak menggunakan dasar angka
yang diperoleh melalui ujicoba untuk menilai apakah instrument itu valid atau
tidak. Dulu kami pernah di tanyai oleh
pembimbing. Apakah ada hubungan antara
banyaknya batu di kali dengan kesejahteraan masyarakat? Secara logika tidak ada
tetapi secara angka bisa ada hubungan.
Inilah alasan kenapa untuk menentukan valid tidaknya instrument kurang
cocok untuk mendasarkan pada penghitungan angka-angka.
I.
TEKNIK ANALISIS DATA
Pada
subbab teknik analisis data kita harus mencantumkan syarat analisis juga. Penelitian saya adalah penelitian korelasi
yang melibatkan 3 variabel. Sebelum
melakukan analisis untuk menjawab hipotesis, data saya harus memenuhi syarat
normalitas, linearitas, dan multikolinearitas.
1.
Uji persyaratan analisis
a. Uji
normalitas
uji normalitas
digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal/ tidak. Cara menguji normalitas yaitu menggunakan one
sample kolmogorov smirnov dengan bantuan SPSS.
Data dapat dikatakan normal jika signifikansinya lebih dari 0,05. Contoh uji normalitas:
b. Uji
linearitas
Uni linearitas
digunakan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas (x) dengan Y (terikat)
memiliki hubungan yang linear. Data
dikatakan linear jika signifikansi lebih besar dari 0.05.
c. Uji
multikolinearitas
d. Uji
multikolinearitas digunakan untuk melihat keterikatan X1 dengan X2. Variabel X1 dengan X2 harus berdiri sendiri
/tidak terikat. Apabila hubungan X1
dengan X2 memiliki hubungan yang mendekati sempurna maka salah satu variabel
harus dihapus. Variabel X1 dengan X2
dikatakan tidak memiliki hubungan jika tolerance
> 0,1 dan VIF < 10,00.
2.
Uji hipotesis
a. Korelasi
x1 dg Y
Peneliti menghitung
korelasi antara X1 dengan Y melalui teknik korelasi parsial jenjang pertama
dengan bantuan SPSS versi 21.
Penghitungan hubungan X1 dengan Y melibatkan kontrol dari X2. Pelibatan kontrol dari X2 dimaksudkan untuk
meniadakan pengaruhnya terhadap variabel-variabel yang sedang
dikorelasikan. Penggunaan jenjang
pertama dalam analisis secara parsial dikarenakan hanya menggunakan satu
variabel kontrol yaitu X2. Demikian juga sebaliknya ketika menghitung korelasi
x2 dengan y.
b. Korelasi
x1 dan x2 dengan y
Sebelum peneliti
menghitung hubungan X1 dan X2 dengan Y, maka peneliti perlu menemukan hubungan
X1 dengan X2 dengan dikontrol variabel Y.
Setelah ditemukan korelasi X1 dengan X2 maka koefisien korelasi dapat
dimasukkan dalam rumus korelasi ganda.
Rumus korelasi ganda yang digunakan yaitu baca Sugiyono, 2012: 233.
3.
Pedoman intepretasi
Setelah melakukan pengujian
hipotesis, peneliti memberikan penafsiran mengenai koefisien korelasi. Untuk memberikan intepretasi, peneliti
berpedoman pada pendapat Sugiyono (2012:231).
Insyaalloh postingan
ini aakan dilanjutkan dengan membahasa apa2 yang harus dituliskan di hasil
penelitian, pembahasan J
Komentar
Posting Komentar