OPINI BEBAS MERDEKA.... :D

OPINI


Dilematis sebuah kebijakan
Baru-baru ini di desa tempat tinggal saya dihimbau untuk mengikuti lomba.  Menanggapi lomba ini setiap dusun dihimbau untuk mempercantik lingkungan tempat tinggal agar terlihat indah sukur-sukur bisa menang lomba.   Untuk memperindah lingkungan, masyarakat membangun tugu-tugu disetiap gang dengan dana yang lumayan tidak murah.  Dana tersebut berasal dari iuran warga setempat.  Setiap warga diharuskan membayar iuran sebesar + 75 ribu rupiah.   Sebagai masyarakat yang tergolong menengah ke bawah saya rasa itu bukan biaya yang murah. 
Penulis beranggapan bahwa lomba desa tidak harus disikapi dengan pembangunan tugu-tugu menjulang.  Alangkah baiknya bila pejabat setempat menjelaskan esensi yang sesungguhnya diharapkan dalam sebuah lomba desa.   Saya sendiri sebagai masyarakat merasa belum memiliki pandangan pasti apa yang sesungguhnya diharapkan dari lomba desa tersebut.  Menurut pandangan penulis, lomba desa seharusnya disikapi dengan himbauan untuk  menerapkan budaya hidup bersih dan merapikan lingkungan tempat tinggal bukan harus dengan membangun tugu.  Sebagai orang yang memangku amanah dari masyarakat banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mengadakan himbauan lomba desa.  Jangan sampai masyarakat menerima mentah-mentah himbauan tersebut yang akhirnya menyulitkan warga sendiri.  Sebagai pertimbangan saja, kondisi penduduk yang termasuk kategori menengah kebawah  dengan dinamika kehidupan tidak stabil bisa dibayangkan bagaimana cara mereka bertahan mempertahankan hidup dan kehidupan.
Sebagian besar pencaharian penduduk adalah petani, yang bisa dibayangkan memiliki penghasilan yang tidak pasti.  Sebagian warga mencari penghasilan tambahan dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga sampai dengan kuli bangunan.  Upah bekerja berkisar antara 25.000 s.d. 35.000 rupiah perhari.  Dapat dibayangkan apa yang dapat dilakukan dengan uang 25.000.  Dinamika kehidupan di desa dihadapkan pada berbagai macam kebutuhan hidup, mulai kebutuhan dasar sampai dengan kebutuhan-kebutuhan sosial, dan kebutuhan pendidikan.
Dilihat dari aspek pemenuhan kebutuhan pokok, harga bahan pokok cenderung naik.  Harga beras mencapai  sembilan ribu rupiah perkilo gram belum lagi harga cabai yang masih mahal mencapai 35.000 perkilo gram.  Apakah iuran tersebut tidak cukup memberatkan warga?  Belum lagi musim-musim seperti ini warga dihadapkan pada kebutuhan mengurus ladang.  Pada umumnya padi tidak akan cukup baik apabila kurang perawatan dalam menyiangi rumput dan membutuhkan pupuk kimia untuk menunjang perkembangan  pertanian.  Apakah itu juga tidak membutuhkan biaya dan tenaga ?  Pertanyaan yang kembali muncul adalah bagaimana warga membagi waktu mengurus pertanian dengan mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup?  Sebagian masyarakat menggunakan waktu pagi dan sore hari setelah pulang dari bekerja untuk merawat padi mereka di ladang. Selain persoalan tenaga, persoalan pemenuhan kebutuhan pupuk mencapai 100 ribu rupiah.
Dilihat dari aspek kebutuhan pendidikan, orangtua juga masih dihadapkan pada kebutuhan untuk memfasilitasi kebutuhan sekolah anak.  Kebutuhan sekolah mulai dari memberikan uang saku sampai dengan memberikan fasilitas-fasilitas belajar anak.  Beruntung pendidikan sekarang jauh lebih murah bahkan gratis.  Tetapi bisa dipertimbangkan lagi bagaimana kondisi finansial orangtua yang menyekolahkan anak diperguruan tinggi.  Setidaknya ia harus membayar biaya kos anak, membayar biaya pendidikan, memberikan uang saku, dan memberikan fasilitas belajar anaknya.  Sebagai orang yang hidup di desa, orangtua sudah mulai ada yang terbuka pemikirannya untuk menyekolahkan anaknya sampai di perguruan tinggi. Dengan segala keterbatasan ekonomi, terjadinya pergeseran pemikiran orangtua yang lebih maju ini patut diapresiasi. Seperti  pendapat Pak Fathur Rahman, M. Si. yang disampaikan dalam suatu perkuliahan bahwa pendidikan merupakan lembaga rekayasa sosial yang baik.  Hal ini bisa dirasakan penulis sendiri, setidaknya dengan sekolah sampai di perguruan tinggi bisa menunda angka pernikahan dini di kabupaten Gunungkidul.


Ditinjau dari kebutuhan sosial bermasyarakat, penduduk juga perlu mendatangi undangan pernikahan, undangan khitan, dan kebutuhan sosial lainnya.  Mendatangi undangan pernikahan maupun undangan lain selain mengorbankan tenaga juga membutuhkan pengorbanan finansial.  Dalam satu acara tersebut warga harus merogoh kantong senilai 25.000 sampai dengan 50.000 tergantung pada kedekatan “seng duwe gawe” dengan warga selaku tamu yang diundang.  Maka kadang muncul pepatah dari orangtua jaman dulu yang mengatakan “gampange le urip angel e le mapake”yang artinya hidup itu mudah yang sulit adalah beradaptasi dengan kehidupan ini, beradaptasi dengan tuntutan dan tuntunan hidup bermasyarakat.

Ruly Ningsih
Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan/prodi BK UNY

Siraman, Wonosari, Gunungkidul.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROSPEK KELANJUTAN STUDI LULUSAN SMK JURUSAN TATA BUSANA

PENGGUNAAN TEKNIK PENGUKUHAN UNTUK MENGATASI PERILAKU MENGGANGGU PADA ANAK PRASEKOLAH

GURU BK SEBAIKNYA “JEMPUT BOLA”